<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Woktherock</id>
	<title>Indonesia Netaudio Forum - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Woktherock"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Woktherock"/>
	<updated>2026-06-13T11:11:02Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.33.1</generator>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=616</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=616"/>
		<updated>2018-08-14T07:46:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Live Cooking */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;''[[Indonesia Netaudio Festival 3 (English)|Click here for English]]''&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan [[MP3 Day|Hari MP3]] dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]] —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Waktu dan Tempat Penyelenggaraan ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Daftar Program ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh [[Wok The Rock]] bekerjasama dengan [[Andreas Siagian]] sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konser musik berlangsung selama dua hari.&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
*  Waktu: 19.00-23.00 WIB &lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Panggung Kecil ======&lt;br /&gt;
*  Waktu: 15.00-18.00 WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Panggung Utama ======&lt;br /&gt;
*19.00-23.00 WIB&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Panggung Utama dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Instalasi cahaya dihadirkan oleh [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Memetakan Arus Bawah ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* 18 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator dan moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Pembicara: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Internet dan teknologi digital telah menjadi motor untuk amplifikasi arus-arus bawah di sirkuit kebudayaan kita hari ini. Media berbasis komunitas menghadirkan narasi dari sudut pandang dan wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh kanal berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta melalui ulang aling di antara peristiwa dan perekaman, pinggiran dan pusat produksi kebudayaan. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring-luring. Sedangkan di sisi lain, internet juga terus menjadi obyek regulasi sekaligus sumber monetisasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai sirkuit kebudayaan yang diperantarai oleh internet dan pergerakan di dalamnya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam kompleksitas sirkuit kebudayaan hari ini, apa yang perlu dilakukan sebagai sesama warganet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya: Fermentasi dan Minuman  ====&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Fasilitator: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format lokakarya ini menawarkan sebuah konsep ide seperti yang ditawarkan oleh internet yang begitu ragam penawaran. Sesi lokakarya ini menawarkan beberapa lokakarya (fruit wine, kombucha dan meracik minuman) kepada siapa saja yang datang, mereka bebas memilih workshop yang mereka sukai. Mereka bebas datang dan pergi. Namun apabila pengunjung/peserta yang tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, kemampuan, pengalaman kepada pengunjung tersebut. Sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Ini merupakan  budaya tanding pada media internet yang memberikan jarak  imaginer pada pengguna internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah mewujudkan budaya Internet yang masif. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google dan media sosial, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran pengetahuan, informasi dan data secara ekstrim. Efek penyebaran yang ekstrim tersebut membuat manusia tak berdaya menampung gempuran informasi yang datang silih berganti tanpa interupsi. Hingga kemudian hanya memperoleh sedikit saja, atau bahkan tidak membekas sama sekali. Internet juga merupakan sebuah dunia semu yang dianggap nyata bagi penggunanya. Ada sebuah jarak imajiner yang sangat absurd di antara mereka.&lt;br /&gt;
Lokakarya ini menawarkan sebuah konsep seperti yang ditawarkan oleh internet yang memiliki aneka ragam penawaran dan perilaku dalam budayanya yang bebas menentukan apapun. Dalam lokakarya ini akan ada beberapa macam teknik meracik minuman fermentasi buah-buahan. Pengunjung bebas memilih teknik yang mereka sukai. Mereka juga bebas datang dan pergi. Namun apabila tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, keahlian dan pengalaman kepada peserta sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Informasi yang diberikan menggunakan informasi dari internet dan pengalaman alamiah yang dimiliki fasilitator. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Menu Lokakarya =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Lokakarya meracik minuman oleh [[Dholy Husada]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya fermentasi buah-buahan oleh [[Theodorus Hendra Adhitya]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya membuat kombucha oleh [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter ====&lt;br /&gt;
* 18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Oleh CookorDie&lt;br /&gt;
*18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Pameran.jpg | thumb | right | 300px | Poster program pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Kurator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00 WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00 WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00 WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tim Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Festival ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sutan Pulungan || Wakil Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Produser/Rekanan JF&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Produser Pelaksana &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian || Pengarah Artistik&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kurator Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Kurator Seminar&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Kurator Lokakarya&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Manajer Produksi Konser Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Manajer Produksi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Rekanan Media&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Keuangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Kepala Produksi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Seksi Administrasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Desainer Grafis&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Teknisi Suara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Penata Lampu&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Dokumentasi Video&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Dokumentasi Foto&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Koordinator Sukarelawan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Manajer Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Pengarah Pertunjukan Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Seksi Transportasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Seksi Konsumsi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Seksi Lingkungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Seksi Perizinan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Jepang) || Teknisi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0 ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Penyusun dan Penyelaras Akhir&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Perwajahan ''User Manual''&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Kontributor Komik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Perekam Wawancara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ucapan Terima Kasih ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Daftar Rekanan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Jogja Record Store Club&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Rekan Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pranala Luar ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Live_Cooking&amp;diff=615</id>
		<title>Live Cooking</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Live_Cooking&amp;diff=615"/>
		<updated>2018-08-14T07:45:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Live Cooking.jpeg|jmpl|Live Cooking]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bahasa Indonesia==&lt;br /&gt;
Masak atau Mati!&lt;br /&gt;
Dari intensitas bertemu yang cukup sering, yang juga seringnya berujung membicarakan makanan lalu memasak, kami memulai untuk membawa masakan ke ruang publik.&lt;br /&gt;
Dimulai dari pasaran SURVIVE!  ditahun 2017, LIFEPATCH open house &amp;quot;Apa itu Island&amp;quot; 2017 kemudian mengisi kantin dalam program Cafe Society di Ruang Mes 56.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu tidak ada nama yang digunakan untuk memberi identitas, namun kali ini kami memilih CookorDie. Melihat sesungguhnya memasak adalah aktivitas dasar bertahan hidup manusia, sebelum kegiatan ini digantikan dengan menukarkan sejumlah uang untuk menghadirkan makanan siap santap dimeja makan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai jumpa di kehebohan dapur Indonesia Netaudio Festival&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bahasa Inggris==&lt;br /&gt;
COOK or Die!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From a quite intense meet up which is finally somehow discuss food and cuisine, we started to bring the cuisine issues to publicly. &lt;br /&gt;
It's started with Pasaran Survive! Hosted by SurviveGarage! in October 2017 then LIFEPATCH's open house 'Apa itu Island' and followed as a Cafe Society program in Ruang Mes 56.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore no name decided or thought about this new identity, only recently we chose and decided 'Cook and Die'. As seeing to eat is the basis for human survival until it replaced by money culture to provide food and ready to eat at your table.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Last but not least, &lt;br /&gt;
You are what You Eat!&lt;br /&gt;
And see you all in the Kitchen! COOK or DIE!&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Hifana&amp;diff=614</id>
		<title>Hifana</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Hifana&amp;diff=614"/>
		<updated>2018-08-14T07:42:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Hifana2.jpg|300px|thumb|right|Penampilan Hifana di Transmusical Festival 2008, Rennes, Prancis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bahasa Inggris==&lt;br /&gt;
Hifana is a Japanese breakbeat musical duo consist of KEZIOmachine and JUICY. This musical project was formed in 1998 and use various kind instruments and techniques such as turntables, Akai MPC Sampler, DVJ decks (musical instrument that are used to play and process CD or DVD, developed by them in collaboration with Poneer), and percussive instrument such as cymbals and cowbell. This group have performed in various music festival such as Fuji Rock Festival  in 2004. They also won an award in Japan Media Arts Festival Excellence Award in 2005 for their song “Wamono”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bahasa Indonesia==&lt;br /&gt;
Hifana adalah proyek musik berdua dari Jepang yang digawangi oleh KEZIOmachine dan JUICY. Proyek musik yang terbentuk pada tahun 1998 ini memainkan jenis musik ''breakbeat'' dengan berbagai instrumen seperti ''turntables'', Akai MPC Sampler, DVJ ''decks'' (instrumen musik untuk memutar dan mengolah bebunyian dengan ''medium'' cakram padat yang mereka kembangkan bersama Pioneer), dan instrumen perkusif seperti simbal dan ''cowbell''. Grup musik yang pernah menyambangi panggung Fuji Rock Festival pada tahun 2004 ini pernah memperoleh penghargaan untuk lagu “Wamono” pada helatan Japan Media Arts Festival Excellence Award.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Situs Web==&lt;br /&gt;
[http://www.hifana.com/ Situs web resmi Hifana]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=613</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=613"/>
		<updated>2018-08-14T07:34:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;''[[Indonesia Netaudio Festival 3 (English)|Click here for English]]''&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan [[MP3 Day|Hari MP3]] dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]] —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Waktu dan Tempat Penyelenggaraan ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Daftar Program ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh [[Wok The Rock]] bekerjasama dengan [[Andreas Siagian]] sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konser musik berlangsung selama dua hari.&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
*  Waktu: 19.00-23.00 WIB &lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Panggung Kecil ======&lt;br /&gt;
*  Waktu: 15.00-18.00 WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Panggung Utama ======&lt;br /&gt;
*19.00-23.00 WIB&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Panggung Utama dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Instalasi cahaya dihadirkan oleh [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Memetakan Arus Bawah ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* 18 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator dan moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Pembicara: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Internet dan teknologi digital telah menjadi motor untuk amplifikasi arus-arus bawah di sirkuit kebudayaan kita hari ini. Media berbasis komunitas menghadirkan narasi dari sudut pandang dan wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh kanal berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta melalui ulang aling di antara peristiwa dan perekaman, pinggiran dan pusat produksi kebudayaan. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring-luring. Sedangkan di sisi lain, internet juga terus menjadi obyek regulasi sekaligus sumber monetisasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai sirkuit kebudayaan yang diperantarai oleh internet dan pergerakan di dalamnya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam kompleksitas sirkuit kebudayaan hari ini, apa yang perlu dilakukan sebagai sesama warganet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya: Fermentasi dan Minuman  ====&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Fasilitator: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format lokakarya ini menawarkan sebuah konsep ide seperti yang ditawarkan oleh internet yang begitu ragam penawaran. Sesi lokakarya ini menawarkan beberapa lokakarya (fruit wine, kombucha dan meracik minuman) kepada siapa saja yang datang, mereka bebas memilih workshop yang mereka sukai. Mereka bebas datang dan pergi. Namun apabila pengunjung/peserta yang tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, kemampuan, pengalaman kepada pengunjung tersebut. Sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Ini merupakan  budaya tanding pada media internet yang memberikan jarak  imaginer pada pengguna internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah mewujudkan budaya Internet yang masif. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google dan media sosial, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran pengetahuan, informasi dan data secara ekstrim. Efek penyebaran yang ekstrim tersebut membuat manusia tak berdaya menampung gempuran informasi yang datang silih berganti tanpa interupsi. Hingga kemudian hanya memperoleh sedikit saja, atau bahkan tidak membekas sama sekali. Internet juga merupakan sebuah dunia semu yang dianggap nyata bagi penggunanya. Ada sebuah jarak imajiner yang sangat absurd di antara mereka.&lt;br /&gt;
Lokakarya ini menawarkan sebuah konsep seperti yang ditawarkan oleh internet yang memiliki aneka ragam penawaran dan perilaku dalam budayanya yang bebas menentukan apapun. Dalam lokakarya ini akan ada beberapa macam teknik meracik minuman fermentasi buah-buahan. Pengunjung bebas memilih teknik yang mereka sukai. Mereka juga bebas datang dan pergi. Namun apabila tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, keahlian dan pengalaman kepada peserta sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Informasi yang diberikan menggunakan informasi dari internet dan pengalaman alamiah yang dimiliki fasilitator. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Menu Lokakarya =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Lokakarya meracik minuman oleh [[Dholy Husada]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya fermentasi buah-buahan oleh [[Theodorus Hendra Adhitya]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya membuat kombucha oleh [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter ====&lt;br /&gt;
* 18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Oleh Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
*18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Pameran.jpg | thumb | right | 300px | Poster program pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Kurator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00 WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00 WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00 WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tim Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Festival ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sutan Pulungan || Wakil Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Produser/Rekanan JF&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Produser Pelaksana &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian || Pengarah Artistik&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kurator Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Kurator Seminar&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Kurator Lokakarya&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Manajer Produksi Konser Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Manajer Produksi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Rekanan Media&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Keuangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Kepala Produksi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Seksi Administrasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Desainer Grafis&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Teknisi Suara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Penata Lampu&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Dokumentasi Video&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Dokumentasi Foto&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Koordinator Sukarelawan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Manajer Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Pengarah Pertunjukan Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Seksi Transportasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Seksi Konsumsi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Seksi Lingkungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Seksi Perizinan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Jepang) || Teknisi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0 ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Penyusun dan Penyelaras Akhir&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Perwajahan ''User Manual''&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Kontributor Komik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Perekam Wawancara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ucapan Terima Kasih ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Daftar Rekanan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Jogja Record Store Club&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Rekan Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pranala Luar ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=612</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=612"/>
		<updated>2018-08-14T06:54:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Panggung Utama */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;''[[Indonesia Netaudio Festival 3 (English)|Click here for English Version]]''&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan [[MP3 Day|Hari MP3]] dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]] —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Waktu dan Tempat Penyelenggaraan ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Daftar Program ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh [[Wok The Rock]] bekerjasama dengan [[Andreas Siagian]] sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konser musik berlangsung selama dua hari.&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
*  Waktu: 19.00-23.00 WIB &lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Panggung Kecil ======&lt;br /&gt;
*  Waktu: 15.00-18.00 WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Panggung Utama ======&lt;br /&gt;
*19.00-23.00 WIB&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Panggung Utama dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Instalasi cahaya dihadirkan oleh [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Memetakan Arus Bawah ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* 18 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator dan moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Pembicara: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Internet dan teknologi digital telah menjadi motor untuk amplifikasi arus-arus bawah di sirkuit kebudayaan kita hari ini. Media berbasis komunitas menghadirkan narasi dari sudut pandang dan wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh kanal berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta melalui ulang aling di antara peristiwa dan perekaman, pinggiran dan pusat produksi kebudayaan. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring-luring. Sedangkan di sisi lain, internet juga terus menjadi obyek regulasi sekaligus sumber monetisasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai sirkuit kebudayaan yang diperantarai oleh internet dan pergerakan di dalamnya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam kompleksitas sirkuit kebudayaan hari ini, apa yang perlu dilakukan sebagai sesama warganet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya: Fermentasi dan Minuman  ====&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Fasilitator: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format lokakarya ini menawarkan sebuah konsep ide seperti yang ditawarkan oleh internet yang begitu ragam penawaran. Sesi lokakarya ini menawarkan beberapa lokakarya (fruit wine, kombucha dan meracik minuman) kepada siapa saja yang datang, mereka bebas memilih workshop yang mereka sukai. Mereka bebas datang dan pergi. Namun apabila pengunjung/peserta yang tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, kemampuan, pengalaman kepada pengunjung tersebut. Sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Ini merupakan  budaya tanding pada media internet yang memberikan jarak  imaginer pada pengguna internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah mewujudkan budaya Internet yang masif. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google dan media sosial, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran pengetahuan, informasi dan data secara ekstrim. Efek penyebaran yang ekstrim tersebut membuat manusia tak berdaya menampung gempuran informasi yang datang silih berganti tanpa interupsi. Hingga kemudian hanya memperoleh sedikit saja, atau bahkan tidak membekas sama sekali. Internet juga merupakan sebuah dunia semu yang dianggap nyata bagi penggunanya. Ada sebuah jarak imajiner yang sangat absurd di antara mereka.&lt;br /&gt;
Lokakarya ini menawarkan sebuah konsep seperti yang ditawarkan oleh internet yang memiliki aneka ragam penawaran dan perilaku dalam budayanya yang bebas menentukan apapun. Dalam lokakarya ini akan ada beberapa macam teknik meracik minuman fermentasi buah-buahan. Pengunjung bebas memilih teknik yang mereka sukai. Mereka juga bebas datang dan pergi. Namun apabila tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, keahlian dan pengalaman kepada peserta sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Informasi yang diberikan menggunakan informasi dari internet dan pengalaman alamiah yang dimiliki fasilitator. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Menu Lokakarya =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Lokakarya meracik minuman oleh [[Dholy Husada]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya fermentasi buah-buahan oleh [[Theodorus Hendra Adhitya]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya membuat kombucha oleh [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter ====&lt;br /&gt;
* 18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Oleh Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
*18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Pameran.jpg | thumb | right | 300px | Poster program pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Kurator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00 WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00 WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00 WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tim Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Festival ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sutan Pulungan || Wakil Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Produser/Rekanan JF&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Produser Pelaksana &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian || Pengarah Artistik&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kurator Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Kurator Seminar&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Kurator Lokakarya&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Manajer Produksi Konser Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Manajer Produksi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Rekanan Media&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Keuangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Kepala Produksi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Seksi Administrasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Desainer Grafis&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Teknisi Suara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Penata Lampu&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Dokumentasi Video&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Dokumentasi Foto&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Koordinator Sukarelawan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Manajer Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Pengarah Pertunjukan Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Seksi Transportasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Seksi Konsumsi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Seksi Lingkungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Seksi Perizinan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Jepang) || Teknisi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0 ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Penyusun dan Penyelaras Akhir&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Perwajahan ''User Manual''&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Kontributor Komik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Perekam Wawancara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ucapan Terima Kasih ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Daftar Rekanan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Jogja Record Store Club&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Rekan Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pranala Luar ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=611</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=611"/>
		<updated>2018-08-14T06:54:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;''[[Indonesia Netaudio Festival 3 (English)|Click here for English Version]]''&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan [[MP3 Day|Hari MP3]] dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]] —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Waktu dan Tempat Penyelenggaraan ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Daftar Program ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh [[Wok The Rock]] bekerjasama dengan [[Andreas Siagian]] sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konser musik berlangsung selama dua hari.&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
*  Waktu: 19.00-23.00 WIB &lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Panggung Kecil ======&lt;br /&gt;
*  Waktu: 15.00-18.00 WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Panggung Utama ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00 WIB&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Panggung Utama dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Instalasi cahaya dihadirkan oleh [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Memetakan Arus Bawah ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* 18 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator dan moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Pembicara: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Internet dan teknologi digital telah menjadi motor untuk amplifikasi arus-arus bawah di sirkuit kebudayaan kita hari ini. Media berbasis komunitas menghadirkan narasi dari sudut pandang dan wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh kanal berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta melalui ulang aling di antara peristiwa dan perekaman, pinggiran dan pusat produksi kebudayaan. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring-luring. Sedangkan di sisi lain, internet juga terus menjadi obyek regulasi sekaligus sumber monetisasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai sirkuit kebudayaan yang diperantarai oleh internet dan pergerakan di dalamnya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam kompleksitas sirkuit kebudayaan hari ini, apa yang perlu dilakukan sebagai sesama warganet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya: Fermentasi dan Minuman  ====&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Fasilitator: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format lokakarya ini menawarkan sebuah konsep ide seperti yang ditawarkan oleh internet yang begitu ragam penawaran. Sesi lokakarya ini menawarkan beberapa lokakarya (fruit wine, kombucha dan meracik minuman) kepada siapa saja yang datang, mereka bebas memilih workshop yang mereka sukai. Mereka bebas datang dan pergi. Namun apabila pengunjung/peserta yang tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, kemampuan, pengalaman kepada pengunjung tersebut. Sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Ini merupakan  budaya tanding pada media internet yang memberikan jarak  imaginer pada pengguna internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah mewujudkan budaya Internet yang masif. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google dan media sosial, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran pengetahuan, informasi dan data secara ekstrim. Efek penyebaran yang ekstrim tersebut membuat manusia tak berdaya menampung gempuran informasi yang datang silih berganti tanpa interupsi. Hingga kemudian hanya memperoleh sedikit saja, atau bahkan tidak membekas sama sekali. Internet juga merupakan sebuah dunia semu yang dianggap nyata bagi penggunanya. Ada sebuah jarak imajiner yang sangat absurd di antara mereka.&lt;br /&gt;
Lokakarya ini menawarkan sebuah konsep seperti yang ditawarkan oleh internet yang memiliki aneka ragam penawaran dan perilaku dalam budayanya yang bebas menentukan apapun. Dalam lokakarya ini akan ada beberapa macam teknik meracik minuman fermentasi buah-buahan. Pengunjung bebas memilih teknik yang mereka sukai. Mereka juga bebas datang dan pergi. Namun apabila tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, keahlian dan pengalaman kepada peserta sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Informasi yang diberikan menggunakan informasi dari internet dan pengalaman alamiah yang dimiliki fasilitator. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Menu Lokakarya =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Lokakarya meracik minuman oleh [[Dholy Husada]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya fermentasi buah-buahan oleh [[Theodorus Hendra Adhitya]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya membuat kombucha oleh [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter ====&lt;br /&gt;
* 18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Oleh Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
*18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Pameran.jpg | thumb | right | 300px | Poster program pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Kurator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00 WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00 WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00 WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tim Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Festival ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sutan Pulungan || Wakil Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Produser/Rekanan JF&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Produser Pelaksana &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian || Pengarah Artistik&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kurator Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Kurator Seminar&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Kurator Lokakarya&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Manajer Produksi Konser Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Manajer Produksi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Rekanan Media&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Keuangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Kepala Produksi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Seksi Administrasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Desainer Grafis&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Teknisi Suara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Penata Lampu&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Dokumentasi Video&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Dokumentasi Foto&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Koordinator Sukarelawan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Manajer Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Pengarah Pertunjukan Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Seksi Transportasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Seksi Konsumsi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Seksi Lingkungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Seksi Perizinan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Jepang) || Teknisi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0 ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Penyusun dan Penyelaras Akhir&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Perwajahan ''User Manual''&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Kontributor Komik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Perekam Wawancara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ucapan Terima Kasih ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Daftar Rekanan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Jogja Record Store Club&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Rekan Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pranala Luar ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=610</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=610"/>
		<updated>2018-08-14T06:52:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Live Cooking */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa and [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
*19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Cooks: Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=609</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=609"/>
		<updated>2018-08-14T06:51:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Workshop */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa and [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
*19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=608</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=608"/>
		<updated>2018-08-14T06:50:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Programs */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa and [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
*19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
*22.00-02.00&lt;br /&gt;
*Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
*Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=607</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=607"/>
		<updated>2018-08-14T06:49:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* August 18th 2018 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa and [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=606</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=606"/>
		<updated>2018-08-14T06:48:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Music */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=605</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=605"/>
		<updated>2018-08-14T06:48:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Music */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=604</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=604"/>
		<updated>2018-08-14T06:47:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Organizer and Sponsors ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=603</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=603"/>
		<updated>2018-08-14T06:45:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Konser Musik */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Music ====&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Presented by ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=602</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3 (English)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3_(English)&amp;diff=602"/>
		<updated>2018-08-14T06:43:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 is a festival hosted by [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Introduction ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', previously known as Indonesian Netlabel Union (INU), has managed to organize two festivals back in [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] titled “Indonesian Netaudio Festival”.&lt;br /&gt;
In these festivals, INF conduct series of activity like discussion, workshop, offline music sharing, and music concerts, presenting Indonesian musicians who are active in using internet as the tools of free distribution and sharing. Other than that, INF also join the celebration of [[MP3 Day|MP3 Day]] back in 14th of July 2015 by releasing free to remix electronic music album, zine, and series of essays. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In 2018, INF will again held the third festival in collaboration with the [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]. Our next plan is to create another festival in 2018 which include similar activities to analyze and perform the current free legal music dan open culture discourses in the digital age in Indonesia and Japan into a wider public. The Festival itself will present Indonesian and Japanese artists in the programs.&lt;br /&gt;
INF will invite participants consist of artists, curators, researchers, and writers from Yogyakarta, Bandung, Jakarta and Tokyo. The main aim of the festival is to analyze the sharing culture within the current controlled digital/internet platform in contemporary Indonesian and Japanese culture.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The event will be held at [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] from 18th to 28th of August 2018 which include music concert, barter market, live cooking, discussion, and workshop on 18th and 19th of August. This year there will be an exhibition curated by [[Riar Rizaldi]] -an artist and also a young researcher in art and media field. The opening ceremony of the exhibition will be held on the same day as the first day of the festival and will be closed on 28th of August.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Time and Place ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Dates: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Since the last decade, Internet usage has developed a massive social and cultural condition both in its number of users and the impact it creates. The web 2.0 with its’ accessible and free access for its’ users to interact with data either with creating new content, copying, manipulating and distorting has created a social order that is considered real it obscures the boundaries between virtual and reality—especially in social media. In short, Internet or the cyberspace is embodied. The term ‘user’ is no longer relevant since any entity that has access to the Internet has become the Internet itself.&lt;br /&gt;
This recent condition breaks the boundaries between things with small range and large scale. It allows for the underground positioned itself in the same room and access with the mainstream. Furthermore, Indonesian tradition of tinkering and its corrupted legal control opens up an opportunity for everyone to create, distribute, control, appropriation, and hack the content of the Internet for any purposes, whether commercial or non-profit, for a personal use or a community, for a good deeds or even a life-threatening purposes. Numerous strategies, thoughts and art works are created and available for consumption and reproduction. On the other hand, the government and big corporation that monopolize the major Internet platforms are collaborating together in scanning and collecting data in order to control access and privatizing data in the Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In contrast with Japan which is known as a leading country of Asia in technology, Japan domination in the international consumer technology market and information technology has been shaken by the development of their neighboring country in the past decades. This has been a major influence in social and cultural of Japan. The society has transformed mentality especially the youth to become freelance of multiple jobs for pursuit of their career. The education to become IT expert has shifted, as their education into a full individualistic society, absorbed to transform their social life in to the virtual world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As a collective—with its egalitarian and democratic approach—that focus on the practice of sharing within Internet and digital platforms, Indonesia Netaudio Forum through an art and cultural festival attempts to open a social space using music and media art that explore the Internet as its major subject as well as critics and intervention on the discourse.&lt;br /&gt;
The music program in Indonesia Netaudio Festival will feature artists that implemented Internet and digital culture in creating and distributing their works both using the non-mainstream distribution or manipulating the mainstream platform. These include from the musician that distribute their music through netlabels, online forum, online radio or file-hosting/sharing service to gain popularity globally regardless the geography, music making through digital application, the use of Internet platforms like YouTube, hacking PlayStation stick as a source of data and disc-jockeys tool, critical cyberculture as a song theme, cross geographical and globally collaboration, the usage of imaginary characters as a band identity and musical works, to sharing music offline through Internet café or PirateBox network.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Programs ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
A music concert presenting musician and VJ who are using internet and digital platform as a tool of work production and distribution. These artists involved also implement open licensing concept such as copyleft or Creative Commons license  on their work and also work collaboratively through various lane of networks. This program is curated by [[Wok The Rock]] and also [[Andreas Siagian]] as artistic director.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The music concert will be held for two days.&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== August 18th 2018 =====&lt;br /&gt;
* Time: 19.00pm-23.00pm WIB &lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== August 19th 2018 =====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
*  Time: 15.00pm-18.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Address: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00pm-23.00pm WIB&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jlagran Street, No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Line up:&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Main stage visuals by [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Lighting configuration by [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Mapping the  Undercurrents ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* August 18th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator and moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Speakers: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
Interactive discussion which held in performative format using sound configuration, video, graphic images, online communication platform and a way to engage festival’s audiences to be actively involved in the discussion. This discussion invites three speakers that will give talks about internet ecosystem, sharing infrastructure, culture of fans and development of music in cyberspace. This activity is open for public and will be held inside the music concert area.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Internet and digital technologies have amplified the undercurrents in our current cultural circuit. Community-based media presents narration from perspectives and areas which are often uncovered by national media channels. New values are being created reciprocally through events and its recordings, peripheries and center of cultural production. The emergence of various netlabels have enriched the infrastructure of music production-distribution in online-offline platforms. While internet has been targeted as object of regulations and source of monetization for stakeholders, including government.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In this discussion arena for two hours, three speakers will elaborate the circuit of culture which has been mediated by internet and the movements within from three case study: netlabels, media art, and dangdut koplo. Along with the speakers, the attendees are being invited to respond the following question: within the complexity of today’s circuit of culture, what needs to be done as fellow netizen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ferments Workshop  ====&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 15.00pm-18.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Curator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Facilitators: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Description =====&lt;br /&gt;
A DIWO (Do-It-With-Others) workshop which invites fruit ferments maker from everywhere to Yogyakarta city. This activity will provide the audience with resources about ferments making that are generated from the internet. This workshop aims to use internet access to find and share knowledge and/or information and try to deliver it with offline interaction while comparing it with experience and knowledge earning that earned from physical activities as social intervention. This comparison shows how physical experiences on knowledge generating are in contrary with knowledge generating from the internet that nowadays has created an imaginary space that is real to it users. This workshop is open for public.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Naration =====&lt;br /&gt;
Huge amount internet user and growing fast, has been make new culture the called “internet culture”. Internet has big influence for science, and world view. Only using internet search engine like Google, internet user all over the world has easy internet access to looking for lot of information’s than book on it library. Internet symbolized of decentralization, knowledge, information and data’s so extremely. The effect of internet distribution extremely make it people obesity information suffering. From that “obesity information” extreme information people can’t accepted all that information, just only little bit they are can taking it. Because of the information attacks people come so fast without interruption. Internet is a virtual space has imaginer distance with the internet user, so that, between internet and user has one communication direction. Internet, as a giver and user, as a receiver.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The concept of this workshop tries to order as like internet order to us. Which is internet ordering us many kinds of information? In this workshop we will make lot of workshop such as: fruit wine fermentation workshop, kombucha tea fermentation, and mixology workshop to everyone they have coming. They are freely chosen what they want, and also they are might easy come and go. But if they are interesting to learn more, the workshop facilitators will be share their knowledge, capability, and experiences to the audience. So has social direct interaction among audiences and facilitators in both sides. It can like a cultural match to internet that given imaginer distance to internet user. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Workshop =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Ferment drinks workshop by Dholy Husada&lt;br /&gt;
* Fruit ferments workshop by Theodorus Hendra Adhitya&lt;br /&gt;
* Kombucha making workshop by Agung Satriya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Barter Market ====&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
One of the main target in this festival is to widen the vision about “open culture” which promote “sharing culture”. This activity will invite the audience to exchange their belongings with each other. The participants could exchange digital audio or video files, clothing, hard-drive, modems, plants or other kind of belongings with each other &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Hosted by Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
* August 18th &amp;amp; 19th 2018, 15.00pm-23.00pm WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Eating collectively is a tradition in Indonesia and some other countries in Asia that are still being maintained despite the rapid growth of modernization. In this activity, there will be Cooks which cook dishes in the festival area and share it to the audience using donation system to earn the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Exhibition - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Curator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Opening Ceremony: August 18th 2018, 14.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Exhibition: Agugust 18th-28th 2018, 11.00pm-19.00pm WIB&lt;br /&gt;
* Location: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The information is anywhere, at any time, and is delivered in a manner appropriate to the location and context. While we can finally get to benefit from the full power of information technology, we miss the ability to absorb the esoteric bodies of knowledge on which it depends. Network technology like mobile telephone and Internet have become the world’s largest shared platform for information exchange—this powerful informatics is already embodied within our life. At the same time, network technology affects the way we communicate—textually, verbally and visually—as well as reconstructed the variety of contemporary technics: art, cinema, biotechnology, digital governance, platform capitalism. One might be wonder, what challenges are presented by the ever-present networked technologies and infrastructures in our cultural activities?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we drift past tipping points that blurred the distinction between online and offline, as we will have to accept that privacy may become a thing of the past, while a new form of visual language manufactured by the influx of memes from an image board like Futaba Channel, and as a post-truth agenda swarms through Facebook blatantly, the exhibition Internet of (No)Things explores the possibility of artistic practice and aesthetic form that critically interrogated the ubiquity of network technology. The Internet of (No)Things exhibition invites Indonesian and Japanese artist to present the work that reinterpret and intervene the visual, material and idea created by rapid transformation of the Internet culture and infrastructure. Furthermore, the exhibition subverts the jargon of Internet of Things (IoT) to provide a critical thinking that the presence of Internet is already embodied to any activities we experience, it actually becomes nothing. Something that we do not have awareness of its mechanism: things just work. It becomes objects, it becomes air, it becomes space. Internet of nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From the visuality of an iOs Anime makeover photo app to Indonesian language subtitle coded on illegal movie streaming site, from breaking down the fundamental foundation of network system through sonic instrument to showing the black-box of network technology by engineering the physical space, from the speculative approach on biotechnology and its impact on the discourse of reproduction to generating thought and opinion into an electrical current, artists from Indonesia and Japan reimagined, appropriated, utilised and reconstructed the implications of network technology. Amidst the contrast characteristic of technological development, cultural background and psychogeography between Indonesia and Japan, the artists here exchange their own unique approach to the vernacular language of networked society in a global village. Therefore, through the artistic works and intervention by the artists in the Internet of (No)Things exhibition we might encounter the challenges as well as opportunities provided by network technology for our cultural activities.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Artists:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* August 19th 2018, 11:00am WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 16:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Artist talk #3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* August 20th 2018, 19:00pm WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Festival Committee ===&lt;br /&gt;
==== Productions ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Project Manager (JP)&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sultan Pulungan || Project Manager Assistant&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Producer/JF Partnership&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Co-producer &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian ||  Artistic Director&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Exhibition Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Seminar Curator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Media Relation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Finance&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Head of Production&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Administration&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Graphic Designer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Sound Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Light Engineer&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Video Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Photo Documentation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Volunteer Coordinator&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Stage Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Music Show Director&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Transportation Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Catering Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Area Manager&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Festival Permit&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Japan) || Stage Crew&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== INF 3.0 ''User Manual'' Production Team  ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Editor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Layout and Design&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Contributor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Acknowledgement ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! List of Partners&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Presented by ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival brought to you by Asia Center - Japan Foundation as part of MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== External links ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF on Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF on Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF on Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Acara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=601</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=601"/>
		<updated>2018-08-14T06:39:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;''[[Indonesia Netaudio Festival 3 (English)|Click here for English Version]]''&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan [[MP3 Day|Hari MP3]] dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]] —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Waktu dan Tempat Penyelenggaraan ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Daftar Program ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh [[Wok The Rock]] bekerjasama dengan [[Andreas Siagian]] sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konser musik berlangsung selama dua hari.&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
*  Waktu: 19.00-23.00 WIB &lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF - Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Panggung Kecil ======&lt;br /&gt;
*  Waktu: 15.00-18.00 WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Panggung Utama ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00 WIB&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Panggung Utama dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Instalasi cahaya dihadirkan oleh [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Memetakan Arus Bawah ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* 18 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator dan moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Pembicara: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Internet dan teknologi digital telah menjadi motor untuk amplifikasi arus-arus bawah di sirkuit kebudayaan kita hari ini. Media berbasis komunitas menghadirkan narasi dari sudut pandang dan wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh kanal berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta melalui ulang aling di antara peristiwa dan perekaman, pinggiran dan pusat produksi kebudayaan. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring-luring. Sedangkan di sisi lain, internet juga terus menjadi obyek regulasi sekaligus sumber monetisasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai sirkuit kebudayaan yang diperantarai oleh internet dan pergerakan di dalamnya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam kompleksitas sirkuit kebudayaan hari ini, apa yang perlu dilakukan sebagai sesama warganet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya: Fermentasi dan Minuman  ====&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Fasilitator: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format lokakarya ini menawarkan sebuah konsep ide seperti yang ditawarkan oleh internet yang begitu ragam penawaran. Sesi lokakarya ini menawarkan beberapa lokakarya (fruit wine, kombucha dan meracik minuman) kepada siapa saja yang datang, mereka bebas memilih workshop yang mereka sukai. Mereka bebas datang dan pergi. Namun apabila pengunjung/peserta yang tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, kemampuan, pengalaman kepada pengunjung tersebut. Sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Ini merupakan  budaya tanding pada media internet yang memberikan jarak  imaginer pada pengguna internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah mewujudkan budaya Internet yang masif. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google dan media sosial, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran pengetahuan, informasi dan data secara ekstrim. Efek penyebaran yang ekstrim tersebut membuat manusia tak berdaya menampung gempuran informasi yang datang silih berganti tanpa interupsi. Hingga kemudian hanya memperoleh sedikit saja, atau bahkan tidak membekas sama sekali. Internet juga merupakan sebuah dunia semu yang dianggap nyata bagi penggunanya. Ada sebuah jarak imajiner yang sangat absurd di antara mereka.&lt;br /&gt;
Lokakarya ini menawarkan sebuah konsep seperti yang ditawarkan oleh internet yang memiliki aneka ragam penawaran dan perilaku dalam budayanya yang bebas menentukan apapun. Dalam lokakarya ini akan ada beberapa macam teknik meracik minuman fermentasi buah-buahan. Pengunjung bebas memilih teknik yang mereka sukai. Mereka juga bebas datang dan pergi. Namun apabila tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, keahlian dan pengalaman kepada peserta sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Informasi yang diberikan menggunakan informasi dari internet dan pengalaman alamiah yang dimiliki fasilitator. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Menu Lokakarya =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Lokakarya meracik minuman oleh [[Dholy Husada]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya fermentasi buah-buahan oleh [[Theodorus Hendra Adhitya]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya membuat kombucha oleh [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter ====&lt;br /&gt;
* 18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Oleh Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
*18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Pameran.jpg | thumb | right | 300px | Poster program pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Kurator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00 WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00 WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00 WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tim Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Festival ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sutan Pulungan || Wakil Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Produser/Rekanan JF&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Produser Pelaksana &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian || Pengarah Artistik&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kurator Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Kurator Seminar&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Kurator Lokakarya&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Manajer Produksi Konser Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Manajer Produksi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Rekanan Media&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Keuangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Kepala Produksi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Seksi Administrasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Desainer Grafis&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Teknisi Suara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Penata Lampu&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Dokumentasi Video&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Dokumentasi Foto&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Koordinator Sukarelawan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Manajer Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Pengarah Pertunjukan Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Seksi Transportasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Seksi Konsumsi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Seksi Lingkungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Seksi Perizinan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Jepang) || Teknisi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0 ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Penyusun dan Penyelaras Akhir&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Perwajahan ''User Manual''&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Kontributor Komik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Perekam Wawancara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ucapan Terima Kasih ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Daftar Rekanan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Jogja Record Store Club&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Rekan Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pranala Luar ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=600</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=600"/>
		<updated>2018-08-14T06:33:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;''[[Indonesia Netaudio Festival 3 (English)|Click here for English Version]]''&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
'''Indonesia Netaudio Forum (INF)''', sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun [[Indonesian Netaudio Festival 1|2012]] and [[Indonesia Netaudio Festival 2|2014]] bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan [[MP3 Day|Hari MP3]] dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang [https://jfac.jp/en/ Japan Foundation Asia Center]: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di [https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_National_Museum Jogja National Museum] pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]] —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Waktu dan Tempat Penyelenggaraan ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Daftar Program ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Konser Musik ====&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh [[Wok The Rock]] bekerjasama dengan [[Andreas Siagian]] sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konser musik berlangsung selama dua hari.&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music1.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
*  Waktu: 19.00-23.00 WIB &lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang) feat Senyawa dan [[Antirender]]&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Music2.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
====== Panggung Kecil ======&lt;br /&gt;
*  Waktu: 15.00-18.00 WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Panggung Utama ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00 WIB&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Taphouse.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara INF x Taphouse Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Panggung Utama dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
Instalasi cahaya dihadirkan oleh [[WAFT-Lab]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Performative Talk: Memetakan Arus Bawah ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara Performative Talk Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
* 18 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator dan moderator: [[Syafiatudina]] (KUNCI Cultural Studies Center)&lt;br /&gt;
* Pembicara: [[Nuraini Juliastuti]], [[Manshur Zikri]] dan [[Irfan R Darajat]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Internet dan teknologi digital telah menjadi motor untuk amplifikasi arus-arus bawah di sirkuit kebudayaan kita hari ini. Media berbasis komunitas menghadirkan narasi dari sudut pandang dan wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh kanal berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta melalui ulang aling di antara peristiwa dan perekaman, pinggiran dan pusat produksi kebudayaan. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring-luring. Sedangkan di sisi lain, internet juga terus menjadi obyek regulasi sekaligus sumber monetisasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai sirkuit kebudayaan yang diperantarai oleh internet dan pergerakan di dalamnya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam kompleksitas sirkuit kebudayaan hari ini, apa yang perlu dilakukan sebagai sesama warganet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya: Fermentasi dan Minuman  ====&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 15.00-18.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Kurator: [[Lifepatch]]&lt;br /&gt;
* Fasilitator: [[Theodorus Hendra Adhitya]], [[Dholy Husada]], dan [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Deskripsi =====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format lokakarya ini menawarkan sebuah konsep ide seperti yang ditawarkan oleh internet yang begitu ragam penawaran. Sesi lokakarya ini menawarkan beberapa lokakarya (fruit wine, kombucha dan meracik minuman) kepada siapa saja yang datang, mereka bebas memilih workshop yang mereka sukai. Mereka bebas datang dan pergi. Namun apabila pengunjung/peserta yang tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, kemampuan, pengalaman kepada pengunjung tersebut. Sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Ini merupakan  budaya tanding pada media internet yang memberikan jarak  imaginer pada pengguna internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Narasi =====&lt;br /&gt;
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah mewujudkan budaya Internet yang masif. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google dan media sosial, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran pengetahuan, informasi dan data secara ekstrim. Efek penyebaran yang ekstrim tersebut membuat manusia tak berdaya menampung gempuran informasi yang datang silih berganti tanpa interupsi. Hingga kemudian hanya memperoleh sedikit saja, atau bahkan tidak membekas sama sekali. Internet juga merupakan sebuah dunia semu yang dianggap nyata bagi penggunanya. Ada sebuah jarak imajiner yang sangat absurd di antara mereka.&lt;br /&gt;
Lokakarya ini menawarkan sebuah konsep seperti yang ditawarkan oleh internet yang memiliki aneka ragam penawaran dan perilaku dalam budayanya yang bebas menentukan apapun. Dalam lokakarya ini akan ada beberapa macam teknik meracik minuman fermentasi buah-buahan. Pengunjung bebas memilih teknik yang mereka sukai. Mereka juga bebas datang dan pergi. Namun apabila tertarik, fasilitator akan membagi pengetahuan, keahlian dan pengalaman kepada peserta sehingga ada interaksi sosial secara langsung antara dua belah pihak. Informasi yang diberikan menggunakan informasi dari internet dan pengalaman alamiah yang dimiliki fasilitator. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Menu Lokakarya =====&lt;br /&gt;
Isi lokakarya yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;
* Lokakarya meracik minuman oleh [[Dholy Husada]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya fermentasi buah-buahan oleh [[Theodorus Hendra Adhitya]]&lt;br /&gt;
* Lokakarya membuat kombucha oleh [[Agung Satriya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter ====&lt;br /&gt;
* 18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Live Cooking]] ====&lt;br /&gt;
* Oleh Anestisiana dan Yoga&lt;br /&gt;
*18 &amp;amp; 19 Agustus 2018, 15.00-23.00 WIB, Jogja National Museum&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:INF3-Pameran.jpg | thumb | right | 300px | Poster program pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” ====&lt;br /&gt;
* Kurator: Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Soichiro Mihara/Kazuki Saita]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 1 =====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00 WIB&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 2 =====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00 WIB&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Seri Wicara Seniman 3 =====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00 WIB&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tim Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Festival ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fumi Hirota || Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Abdul Barry Sutan Pulungan || Wakil Pemimpin Proyek&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Wok The Rock || Produser/Rekanan JF&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anitha Silvia || Produser Pelaksana &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andreas Siagian || Pengarah Artistik&lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kurator Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Syafiatudina || Kurator Seminar&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Lifepatch || Kurator Lokakarya&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adi Adriandi || Manajer Produksi Konser Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Rismilliana Wijayanti || Manajer Produksi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Amelberga Prasetyaningtyas || Rekanan Media&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Octalyna Puspa Wardany || Keuangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yudistira Satria || Kepala Produksi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Prastica Malinda || Seksi Administrasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonas Kristy || Desainer Grafis&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Anton Gendel || Teknisi Suara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sugeng Utomo || Penata Lampu&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Arief Budiman || Dokumentasi Video&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Swandi Ranadila || Dokumentasi Foto&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adib Nur Fajar || Koordinator Sukarelawan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adam Oktaviantoro || Manajer Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gading Paksi || Pengarah Pertunjukan Musik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andi Meinl || Seksi Transportasi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Sri Kusumaningrum || Seksi Konsumsi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Fuad Nurdiansyah || Seksi Lingkungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ignatius Kendal || Seksi Perizinan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Vandy Rizaldi || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Angga Pratama || Kru Panggung&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yuya Ito (Jepang) || Teknisi Pameran&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0 ====&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Nama !! Posisi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Hilman Fathoni || Penyusun dan Penyelaras Akhir&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Yonaz Kristy || Perwajahan ''User Manual''&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Andaru Pramudito || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Aditya Saputra || Kontributor Komik&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taufiq Aribowo || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Riar Rizaldi || Kontributor Artikel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Adythia Utama || Perekam Wawancara&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ucapan Terima Kasih ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
! Daftar Rekanan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Green Host Hotel&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Ruang MES 56&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Berrybeanbag&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| TNGR&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Taphouse&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| YK Booking&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Detikdotcom&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Bengkel Pak Meng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Jogja Record Store Club&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Rekan Penyelenggara ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pranala Luar ===&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3_PerformativeTalk.jpg&amp;diff=599</id>
		<title>Berkas:INF3 PerformativeTalk.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3_PerformativeTalk.jpg&amp;diff=599"/>
		<updated>2018-08-14T06:24:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Pameran.jpg&amp;diff=589</id>
		<title>Berkas:INF3-Pameran.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Pameran.jpg&amp;diff=589"/>
		<updated>2018-08-11T08:54:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Taphouse.jpg&amp;diff=588</id>
		<title>Berkas:INF3-Taphouse.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Taphouse.jpg&amp;diff=588"/>
		<updated>2018-08-11T08:53:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Music2.jpg&amp;diff=587</id>
		<title>Berkas:INF3-Music2.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Music2.jpg&amp;diff=587"/>
		<updated>2018-08-11T08:53:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Music1.jpg&amp;diff=586</id>
		<title>Berkas:INF3-Music1.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:INF3-Music1.jpg&amp;diff=586"/>
		<updated>2018-08-11T08:52:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Soichiro_Mihara/Kazuki_Saita&amp;diff=471</id>
		<title>Soichiro Mihara/Kazuki Saita</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Soichiro_Mihara/Kazuki_Saita&amp;diff=471"/>
		<updated>2018-08-02T15:09:27Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Bahasa Indonesia */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Soichiro Mihara dan Kazuki Saita oleh 5upernet.jpg|jmpl|Soichiro Mihara dan Kazuki Saita oleh 5upernet]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bahasa Inggris==&lt;br /&gt;
The Japanese artists and computer experts Soichiro Mihara and Kazuki Saita have been working on the development of organic sound systems since 2004, when they attended a lecture on imaginary energy fields by synthesizer pioneer Robert Moog. Their goal is the creation of a decentrally organized alternative nature, which will make the “living echo of technology” audible.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bahasa Indonesia==&lt;br /&gt;
Seniman dan ahli komputer Soichiro Mihara dan Kazuki Saita telah bekerja dalam ranah pengembangan sistem bunyi organik sejak tahun 2004. Praktik tersebut terinspirasi oleh kelas tentang “Imaginary Energy Fields” oleh pelopor perangkat synthesizer Robert Moog. Tujuan utama mereka adalah penciptaan alam alternatif yang terdesentralisasi dan terorganisir. Di mana ruang tersebut dapat menyuarakan gema dari bebunyian yang bersumber dari teknologi menjadi terdengar.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=446</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=446"/>
		<updated>2018-08-01T12:18:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: /* Live Cooking (18-19 Agustus 2018) */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
[[Indonesia Netaudio Forum]] (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik dan pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara ''after party'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* [[Silampukau]]&lt;br /&gt;
* [[Amok]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program konser dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Sabarbar]]&lt;br /&gt;
* [[Hyper Allergic]]&lt;br /&gt;
* [[Temaram]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* [[Bottlesmoker]]&lt;br /&gt;
* [[Gardika Gigih dan Tomy Herseta]]&lt;br /&gt;
* [[Dissonant]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== INF X Taphouse ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[Oomleo Berkaraoke]]&lt;br /&gt;
* [[Princess Xiaomi]]&lt;br /&gt;
* [[Prontaxan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visual di Main Stage dipersembahkan oleh [[Video Battle]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== [[Gelar Wicara di Indonesia Netaudio Festival 2018 | Gelar Wicara di Indonesia Netaudio Festival 3 (18 Agustus 2018)]] ====&lt;br /&gt;
{{:Gelar Wicara di Indonesia Netaudio Festival 2018}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh [[Lifepatch]]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokakarya berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang menjadi visi utama INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh [[Riar Rizaldi]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[EXONEMO]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tim Produksi Acara ====&lt;br /&gt;
* Wok The Rock	: Producer / JF Partnership&lt;br /&gt;
* Anitha Silvia: Co-producer&lt;br /&gt;
* Amelberga Prasetyaningtyas : Media Relation&lt;br /&gt;
* Andreas Siagian: Artistic Director&lt;br /&gt;
* Lifepatch: Workshop Coordinator&lt;br /&gt;
* Syafiatudina: Seminar Curator&lt;br /&gt;
* Riar Rizaldi: Exhibition Curator&lt;br /&gt;
* Prastica Malinda: Administrator&lt;br /&gt;
* Adi Adriandi: Music Concert Production Manager&lt;br /&gt;
* Yudistira Satria: Head of Production&lt;br /&gt;
* Yonas Kristy: Graphic Designer&lt;br /&gt;
* Anton Gendel: Sound Engineer&lt;br /&gt;
* Sugeng Utomo: Light Engineer&lt;br /&gt;
* Rismilliana Wijayanti: Exhibition Production Manager&lt;br /&gt;
* Octalyna Puspa Wardany: Finance&lt;br /&gt;
* Arief Budiman: Video Documentation&lt;br /&gt;
* Swandi Ranadila: Photo Documentation&lt;br /&gt;
* Adib Nur Fajar	: Volunteer Coordinator &lt;br /&gt;
* Adam Oktaviantoro: Stage Manager			&lt;br /&gt;
* Vandy Rizaldi: Stage Crew&lt;br /&gt;
* Angga Pratama: Stage Crew&lt;br /&gt;
* Aditya: Stage Crew&lt;br /&gt;
* Gading Paksi: Music Show Director&lt;br /&gt;
* Fuad Nurdiansyah: Area Manager&lt;br /&gt;
* Ignatius Kendal: Festival Permit&lt;br /&gt;
* Sri Kusumaningrum: Catering Manager&lt;br /&gt;
* Andi Meinl: Transportation Manager&lt;br /&gt;
* Yuya Ito: Exhibition Technical Engineer&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Nama Tim Redaksi ''User Manual'' INF 3.0:&lt;br /&gt;
* Editor: Hilman Fathoni&lt;br /&gt;
* Layout: Yonas Kristy&lt;br /&gt;
* Kontributor:&lt;br /&gt;
* Andaru Pramudito&lt;br /&gt;
* Aditya Saputra&lt;br /&gt;
* Taufiq Aribowo&lt;br /&gt;
* Riar Rizaldi&lt;br /&gt;
* Adythia Utama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucapan Terima kasih&lt;br /&gt;
* Asia Center Japan Foundation&lt;br /&gt;
* Gallery Prawirotaman Hotel&lt;br /&gt;
* Green Host Hotel&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56&lt;br /&gt;
* KUNCI Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
* Balai Seni Gampingan&lt;br /&gt;
* Berrybeanbag&lt;br /&gt;
* TNGR&lt;br /&gt;
* Taphouse&lt;br /&gt;
* YK Booking&lt;br /&gt;
* Whiteboardjournal&lt;br /&gt;
* Detikdotcom&lt;br /&gt;
* Tante Bikinilfil&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Rekan Penyelenggara ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Ayano_Sudo&amp;diff=445</id>
		<title>Ayano Sudo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Ayano_Sudo&amp;diff=445"/>
		<updated>2018-08-01T12:11:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Ayano Sudo.jpg|400px|thumb|right|Ayano Sudo at the AIPAD photography convention in April in front of her works.]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
The subject of her work is the desire to transform oneself, surpassing one's granted gender. Ayano Sudo photographs herself and other models in various locations and countries, and also in her studio in Japan; the settings and the processes that undertake the transformations thus go further beyond given nationality, sexuality, or time period. The resulting work, color prints on textured paper, floats between photography and Shojo-Manga (a genre of manga destined to girls between ages 10 to 18), and is decorated with rhinestones and glitter, sparkling and shining almost like stage make-up under spotlights when installed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayano Sudo was born in 1986. After completing a study exchange program at Beaux-Arts de Paris in 2009, she graduated from Kyoto City University Of Arts in 2011. The same year she received the Yasumasa Morimura prize, part of Mio Photo Osaka. Won Canon New Cosmos Grand Prix 2014. She will take part in the group exhibition &amp;quot;I know something about love, asian contemporary photography&amp;quot; at Tokyo Photographic Art Museum in October 2018.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [http://ayanosudo.tumblr.com/ Ayano Sudo di Tumblr]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Ayano_Sudo.jpg&amp;diff=444</id>
		<title>Berkas:Ayano Sudo.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Ayano_Sudo.jpg&amp;diff=444"/>
		<updated>2018-08-01T12:10:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: Ayano Sudo at the AIPAD photography convention in April in front of photographs she has taken, photo by Abe Frajndlich for The New York Times.&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Ayano Sudo at the AIPAD photography convention in April in front of photographs she has taken, photo by Abe Frajndlich for The New York Times.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Gardika_Gigih_dan_Tomy_Herseta&amp;diff=382</id>
		<title>Gardika Gigih dan Tomy Herseta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Gardika_Gigih_dan_Tomy_Herseta&amp;diff=382"/>
		<updated>2018-07-30T13:44:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Proyek kolaborasi antara Gardika Gigih dan Tomy Herseta ini diniatkan sebagai ruang pertemuan antara gaya musik piano klasik milik Gigih dengan kreasi bunyi musik elektronik dari Tomy. Proses pembuatan komposisi kolaboratif ini dilaksanakan dengan metode improvisasi pertama kali pada tanggal 6 September 2017 di Playhouse, Bandung. Gigih Gardika menerbitkan album pertamanya, “Nyala”, melalui Sorge Records, sedangkan Tomy merilis sebuah rilisan single bertajuk “Attempt” melalui Hema Records. Kedua album musik tersebut sama-sama diterbitkan di bawah ketentuan lisensi terbuka Creative Commons. Album kolaborasi mereka akan dirilis oleh Sorge Records pada tahun 2018.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Gardika_Gigih_dan_Tomy_Herseta&amp;diff=381</id>
		<title>Gardika Gigih dan Tomy Herseta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Gardika_Gigih_dan_Tomy_Herseta&amp;diff=381"/>
		<updated>2018-07-30T13:43:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Proyek kolaborasi antara Gardika Gigih dan Tomy Herseta ini diniatkan sebagai ruang pertemuan antara gaya musik piano klasik milik Gigih dengan kreasi bunyi musik elektronik dari Tomy. Proses pembuatan komposisi kolaboratif ini dilaksanakan dengan metode improvisasi pertama kali pada tanggal 6 September 2017 di Playhouse, Bandung. Gigih Gardika menerbitkan album pertamanya, “Nyala”, melalui Sorge Records, sedangkan Tomy merilis sebuah rilisan single bertajuk “Attempt” melalui Hema Records. Kedua album musik tersebut sama-sama diterbitkan di bawah ketentuan lisensi terbuka Creative Commons. Album kolaborasi mereka akan dirilis oleh Sorge pada tahun 2018.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Oomleo_Berkaraoke&amp;diff=380</id>
		<title>Oomleo Berkaraoke</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Oomleo_Berkaraoke&amp;diff=380"/>
		<updated>2018-07-30T13:19:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Oomleo.jpg|400px|right]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Proyek karaoke performer Narpati Awangga (Goodnight Electric) ini menyajikan ratusan daftar putar lagu yang didampingi dengan video serta lirik lagu-lagunya dan mengajak audiensnya untuk mengalami suasana bernyanyi bersama. Audiens bebas untuk memilih atau meminta lagu favoritnya untuk diputar dan dinyanyikan sehingga suasana karaoke menjadi lebih kolektif dan dinamis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Oomleo.jpg&amp;diff=379</id>
		<title>Berkas:Oomleo.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Oomleo.jpg&amp;diff=379"/>
		<updated>2018-07-30T13:18:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Princess_Xiaomi&amp;diff=378</id>
		<title>Princess Xiaomi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Princess_Xiaomi&amp;diff=378"/>
		<updated>2018-07-30T13:09:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Princess Xiaomi.jpg|right|500px]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Princess Xiaomi adalah proyek dari Angeeta Sentana, Essy Pramesti dan Rugun Sirait untuk menyalurkan hobi berkaraoke mereka dalam kegiatan yang dapat dinikmati bersama publik yang lebih luas. Tiga perempuan ini memainkan lagu-lagu dari era 2000an yang menjadi favorit mereka saat duduk di bangku SD hingga SMA. Saat mereka tampil, lantai dansa yang biasanya didominasi oleh laki-laki berubah menjadi ruang yang lebih egaliter dengan banyaknya perempuan yang berada di lini depan. Princess Xiaomi merupakan bagian dari Terror Weekend, sebuah kolektif asal Yogyakarta yang mengorganisir pertunjukan musik secara mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Princess_Xiaomi&amp;diff=377</id>
		<title>Princess Xiaomi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Princess_Xiaomi&amp;diff=377"/>
		<updated>2018-07-30T13:08:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Princess Xiaomi.jpg|right|300px]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Princess Xiaomi adalah proyek dari Angeeta Sentana, Essy Pramesti dan Rugun Sirait untuk menyalurkan hobi berkaraoke mereka dalam kegiatan yang dapat dinikmati bersama publik yang lebih luas. Tiga perempuan ini memainkan lagu-lagu dari era 2000an yang menjadi favorit mereka saat duduk di bangku SD hingga SMA. Saat mereka tampil, lantai dansa yang biasanya didominasi oleh laki-laki berubah menjadi ruang yang lebih egaliter dengan banyaknya perempuan yang berada di lini depan. Princess Xiaomi merupakan bagian dari Terror Weekend, sebuah kolektif asal Yogyakarta yang mengorganisir pertunjukan musik secara mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Princess_Xiaomi&amp;diff=376</id>
		<title>Princess Xiaomi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Princess_Xiaomi&amp;diff=376"/>
		<updated>2018-07-30T13:08:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[Berkas:Princess Xiaomi.jpg|right|300px]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Princess Xiaomi adalah proyek dari Angeeta Sentana, Essy Pramesti dan Rugun Sirait untuk menyalurkan hobi berkaraoke mereka dalam kegiatan yang dapat dinikmati bersama publik yang lebih luas. Tiga perempuan ini memainkan lagu-lagu dari era 2000an yang menjadi favorit mereka saat duduk di bangku SD hingga SMA. Saat mereka tampil, lantai dansa yang biasanya didominasi oleh laki-laki berubah menjadi ruang yang lebih egaliter dengan banyaknya perempuan yang berada di lini depan. Princess Xiaomi merupakan bagian dari Terror Weekend, sebuah kolektif asal Yogyakarta yang mengorganisir pertunjukan musik secara mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Princess_Xiaomi.jpg&amp;diff=375</id>
		<title>Berkas:Princess Xiaomi.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Princess_Xiaomi.jpg&amp;diff=375"/>
		<updated>2018-07-30T13:07:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Amok&amp;diff=374</id>
		<title>Amok</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Amok&amp;diff=374"/>
		<updated>2018-07-30T13:06:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Amok.jpg|right|300px]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Amok adalah band hardcore-punk yang berasal dari Yogyakarta. Grup musik ini terbentuk atas dasar ketertarikan terhadap nilai-nilai budaya lokal yang berkelindan dengan sikap dan ideologi punk. Album pertama Amok, “Babak Satu”, diterbitkan melalui netlabel Dugtrax Records yang bermoto kan “PUNX TO COPY AND SHARE FOR FREE” secara gratis unduh. Rangkaian tur di beberapa kota di pulau Jawa dan Bali telah mereka jalani untuk mempromosikan album tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [https://soundcloud.com/amokmusik Amok di Soundcloud]&lt;br /&gt;
* [https://dugtrax.bandcamp.com/album/babak-satu Album Babak Satu di Dugtrax Records]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Amok.jpg&amp;diff=373</id>
		<title>Berkas:Amok.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Amok.jpg&amp;diff=373"/>
		<updated>2018-07-30T13:05:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Prontaxan&amp;diff=372</id>
		<title>Prontaxan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Prontaxan&amp;diff=372"/>
		<updated>2018-07-30T12:39:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Prontaxan.jpeg|450px|right]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Prontaxan adalah kolektif DJ yang diinisiasi oleh Yahya Dwi Kurniawan dan Uji Hahan Handoko pada tahun 2018 di Yogyakarta. Dilandasi oleh keterbukaan dan kemudahan akses informasi dan teknologi, Prontaxan mengunakan video di YouTube dan perangkat MP3 controller untuk menggaungkan lagu-lagu pilihannya. Seleksi atas musik tersebut merujuk pada perayaan bercampurnya musik elektronik, dangdut, campursari dan nada-nada khas nusantara sekaligus menawarkan dugaan atas konsumsi musik dan relasinya pada konstruksi representasi kelas sosial di masyarakat. Percampuran ini kita kenal dengan nama Funkot, sebuah gaya yang dipopulerkan oleh [[Barakatak]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Prontaxan&amp;diff=371</id>
		<title>Prontaxan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Prontaxan&amp;diff=371"/>
		<updated>2018-07-30T12:37:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Prontaxan.jpeg|300px|right]]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Prontaxan adalah kolektif DJ yang diinisiasi oleh Yahya Dwi Kurniawan dan Uji Hahan Handoko pada tahun 2018 di Yogyakarta. Dilandasi oleh keterbukaan dan kemudahan akses informasi dan teknologi, Prontaxan mengunakan video di YouTube dan perangkat MP3 controller untuk menggaungkan lagu-lagu pilihannya. Seleksi atas musik tersebut merujuk pada perayaan bercampurnya musik elektronik, dangdut, campursari dan nada-nada khas nusantara sekaligus menawarkan dugaan atas konsumsi musik dan relasinya pada konstruksi representasi kelas sosial di masyarakat. Percampuran ini kita kenal dengan nama Funkot, sebuah gaya yang dipopulerkan oleh [[Barakatak]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Prontaxan&amp;diff=370</id>
		<title>Prontaxan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Prontaxan&amp;diff=370"/>
		<updated>2018-07-30T12:37:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[Berkas:Prontaxan.jpeg|300px|right]&lt;br /&gt;
==== Biografi ====&lt;br /&gt;
Prontaxan adalah kolektif DJ yang diinisiasi oleh Yahya Dwi Kurniawan dan Uji Hahan Handoko pada tahun 2018 di Yogyakarta. Dilandasi oleh keterbukaan dan kemudahan akses informasi dan teknologi, Prontaxan mengunakan video di YouTube dan perangkat MP3 controller untuk menggaungkan lagu-lagu pilihannya. Seleksi atas musik tersebut merujuk pada perayaan bercampurnya musik elektronik, dangdut, campursari dan nada-nada khas nusantara sekaligus menawarkan dugaan atas konsumsi musik dan relasinya pada konstruksi representasi kelas sosial di masyarakat. Percampuran ini kita kenal dengan nama Funkot, sebuah gaya yang dipopulerkan oleh [[Barakatak]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Prontaxan.jpeg&amp;diff=369</id>
		<title>Berkas:Prontaxan.jpeg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Prontaxan.jpeg&amp;diff=369"/>
		<updated>2018-07-30T12:36:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=328</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=328"/>
		<updated>2018-07-30T09:53:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
[[Indonesia Netaudio Forum]] (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik dan pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara ''after party'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* Silampukau &lt;br /&gt;
* Amok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program acara dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Sabarbar&lt;br /&gt;
* Hyper Allergic&lt;br /&gt;
* Temaram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* Bottlesmoker&lt;br /&gt;
* Gardika Gigih &amp;amp; Tomy Herseta&lt;br /&gt;
* Dissonant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== After Party ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Oomleo Berkaraoke&lt;br /&gt;
* Princess Xiaomi&lt;br /&gt;
* Prontaxan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diskusi (18 Agustus 2018)====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''“Memetakan Arus Bawah (Mapping the Undercurrents)”'''&lt;br /&gt;
18 Agustus 2018&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
[[Berkas:RelatedEventINF3.jpg | thumb | left | 300px | Poster program ''Diskusi'', ''Lokakarya'', ''Pasar Barter'' dan ''Live Cooking'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari kritik terhadap pusat-pusat produksi pengetahuan, penciptaan nilai-nilai alternatif hingga kemunculan subyektivitas baru, internet telah menjadi lokasi sekaligus motor bagi beragam transformasi di ranah sosial-politik kita di hari ini. Jurnalisme warga yang didukung teknologi dan internet menghadirkan narasi dari sudut pandang komunitas dan meliput wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh juru berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta dalam ulang aling informasi di antara peristiwa dan rekaman, juga pelosok dan kota. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring maupun luring (online/offline). Arus-arus bawah mulai bermunculan di arus utama dalam sirkuit produksi budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai lanskap produksi pengetahuan dan relasi-relasi yang mendiaminya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam lanskap produksi pengetahuan yang semakin kompleks, apa yang perlu dilakukan sebagai warganet yang mendiaminya?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi ini dikurasi oleh Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh Lifepatch. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokakarya berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, beberapa koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang ingin disampaikan oleh INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[Exonemo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Rekan Penyelenggara ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=327</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=327"/>
		<updated>2018-07-30T09:53:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
[[Indonesia Netaudio Forum]] (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik dan pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara ''after party'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* Silampukau &lt;br /&gt;
* Amok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program acara dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Sabarbar&lt;br /&gt;
* Hyper Allergic&lt;br /&gt;
* Temaram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* Bottlesmoker&lt;br /&gt;
* Gardika Gigih &amp;amp; Tomy Herseta&lt;br /&gt;
* Dissonant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== After Party ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Oomleo Berkaraoke&lt;br /&gt;
* Princess Xiaomi&lt;br /&gt;
* Prontaxan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diskusi (18 Agustus 2018)====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''“Memetakan Arus Bawah (Mapping the Undercurrents)”'''&lt;br /&gt;
18 Agustus 2018&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
[[Berkas:RelatedEventINF3.jpg | thumb | left | 300px | Poster program ''Diskusi'', ''Lokakarya'', ''Pasar Barter'' dan ''Live Cooking'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari kritik terhadap pusat-pusat produksi pengetahuan, penciptaan nilai-nilai alternatif hingga kemunculan subyektivitas baru, internet telah menjadi lokasi sekaligus motor bagi beragam transformasi di ranah sosial-politik kita di hari ini. Jurnalisme warga yang didukung teknologi dan internet menghadirkan narasi dari sudut pandang komunitas dan meliput wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh juru berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta dalam ulang aling informasi di antara peristiwa dan rekaman, juga pelosok dan kota. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring maupun luring (online/offline). Arus-arus bawah mulai bermunculan di arus utama dalam sirkuit produksi budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai lanskap produksi pengetahuan dan relasi-relasi yang mendiaminya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam lanskap produksi pengetahuan yang semakin kompleks, apa yang perlu dilakukan sebagai warganet yang mendiaminya?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi ini dikurasi oleh Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh Lifepatch. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokakarya berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, beberapa koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang ingin disampaikan oleh INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[Exonemo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Rekan Penyelenggara ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|left|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=326</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=326"/>
		<updated>2018-07-30T09:52:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
[[Indonesia Netaudio Forum]] (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik dan pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara ''after party'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* Silampukau &lt;br /&gt;
* Amok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program acara dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Sabarbar&lt;br /&gt;
* Hyper Allergic&lt;br /&gt;
* Temaram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* Bottlesmoker&lt;br /&gt;
* Gardika Gigih &amp;amp; Tomy Herseta&lt;br /&gt;
* Dissonant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== After Party ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Oomleo Berkaraoke&lt;br /&gt;
* Princess Xiaomi&lt;br /&gt;
* Prontaxan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diskusi (18 Agustus 2018)====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''“Memetakan Arus Bawah (Mapping the Undercurrents)”'''&lt;br /&gt;
18 Agustus 2018&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
[[Berkas:RelatedEventINF3.jpg | thumb | left | 300px | Poster program ''Diskusi'', ''Lokakarya'', ''Pasar Barter'' dan ''Live Cooking'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari kritik terhadap pusat-pusat produksi pengetahuan, penciptaan nilai-nilai alternatif hingga kemunculan subyektivitas baru, internet telah menjadi lokasi sekaligus motor bagi beragam transformasi di ranah sosial-politik kita di hari ini. Jurnalisme warga yang didukung teknologi dan internet menghadirkan narasi dari sudut pandang komunitas dan meliput wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh juru berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta dalam ulang aling informasi di antara peristiwa dan rekaman, juga pelosok dan kota. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring maupun luring (online/offline). Arus-arus bawah mulai bermunculan di arus utama dalam sirkuit produksi budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai lanskap produksi pengetahuan dan relasi-relasi yang mendiaminya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam lanskap produksi pengetahuan yang semakin kompleks, apa yang perlu dilakukan sebagai warganet yang mendiaminya?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi ini dikurasi oleh Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh Lifepatch. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokakarya berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, beberapa koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang ingin disampaikan oleh INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[Exonemo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Rekan Penyelenggara ====&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|right|200px]]&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=325</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=325"/>
		<updated>2018-07-30T09:50:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
[[Indonesia Netaudio Forum]] (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik dan pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara ''after party'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* Silampukau &lt;br /&gt;
* Amok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program acara dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Sabarbar&lt;br /&gt;
* Hyper Allergic&lt;br /&gt;
* Temaram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* Bottlesmoker&lt;br /&gt;
* Gardika Gigih &amp;amp; Tomy Herseta&lt;br /&gt;
* Dissonant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== After Party ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Oomleo Berkaraoke&lt;br /&gt;
* Princess Xiaomi&lt;br /&gt;
* Prontaxan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diskusi (18 Agustus 2018)====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''“Memetakan Arus Bawah (Mapping the Undercurrents)”'''&lt;br /&gt;
18 Agustus 2018&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
[[Berkas:RelatedEventINF3.jpg | thumb | left | 300px | Poster program ''Diskusi'', ''Lokakarya'', ''Pasar Barter'' dan ''Live Cooking'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari kritik terhadap pusat-pusat produksi pengetahuan, penciptaan nilai-nilai alternatif hingga kemunculan subyektivitas baru, internet telah menjadi lokasi sekaligus motor bagi beragam transformasi di ranah sosial-politik kita di hari ini. Jurnalisme warga yang didukung teknologi dan internet menghadirkan narasi dari sudut pandang komunitas dan meliput wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh juru berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta dalam ulang aling informasi di antara peristiwa dan rekaman, juga pelosok dan kota. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring maupun luring (online/offline). Arus-arus bawah mulai bermunculan di arus utama dalam sirkuit produksi budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai lanskap produksi pengetahuan dan relasi-relasi yang mendiaminya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam lanskap produksi pengetahuan yang semakin kompleks, apa yang perlu dilakukan sebagai warganet yang mendiaminya?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi ini dikurasi oleh Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh Lifepatch. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokakarya berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, beberapa koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang ingin disampaikan oleh INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[Exonemo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Rekan Penyelenggara ====&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation sebagai bagian dari program MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Asia Center Logo.jpg|left|200px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pranala Luar ====&lt;br /&gt;
* [http://www.instagram.com/idnetaudiofest INF di Instagram]&lt;br /&gt;
* [http://www.twitter.com/idnetaudiofest INF di Twitter]&lt;br /&gt;
* [https://www.facebook.com/groups/indonetlabelunion INF di Facebook]&lt;br /&gt;
* [https://jfac.jp/en/culture/events/e-meca-2017/ Situs web MeCA - Media Culture in Asia: A Transnational Platform]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Asia_Center_Logo.jpg&amp;diff=324</id>
		<title>Berkas:Asia Center Logo.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Berkas:Asia_Center_Logo.jpg&amp;diff=324"/>
		<updated>2018-07-30T09:43:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=323</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=323"/>
		<updated>2018-07-30T09:42:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:INF3VID.jpg | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
[[Indonesia Netaudio Forum]] (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:BannerINF3.jpg|center]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
[[Berkas:MusicExhibitionINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster program musik dan pameran Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:AfterPartyINF3.jpg | thumb | right | 300px | Poster acara ''after party'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Hifana]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Senyawa]]&lt;br /&gt;
* Silampukau &lt;br /&gt;
* Amok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program acara dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Sabarbar&lt;br /&gt;
* Hyper Allergic&lt;br /&gt;
* Temaram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* [[Barakatak]]&lt;br /&gt;
* Bottlesmoker&lt;br /&gt;
* Gardika Gigih &amp;amp; Tomy Herseta&lt;br /&gt;
* Dissonant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== After Party ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Oomleo Berkaraoke&lt;br /&gt;
* Princess Xiaomi&lt;br /&gt;
* Prontaxan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diskusi (18 Agustus 2018)====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''“Memetakan Arus Bawah (Mapping the Undercurrents)”'''&lt;br /&gt;
18 Agustus 2018&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
[[Berkas:RelatedEventINF3.jpg | thumb | left | 300px | Poster program ''Diskusi'', ''Lokakarya'', ''Pasar Barter'' dan ''Live Cooking'' Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari kritik terhadap pusat-pusat produksi pengetahuan, penciptaan nilai-nilai alternatif hingga kemunculan subyektivitas baru, internet telah menjadi lokasi sekaligus motor bagi beragam transformasi di ranah sosial-politik kita di hari ini. Jurnalisme warga yang didukung teknologi dan internet menghadirkan narasi dari sudut pandang komunitas dan meliput wilayah-wilayah yang tak tersentuh oleh juru berita nasional. Nilai-nilai baru tercipta dalam ulang aling informasi di antara peristiwa dan rekaman, juga pelosok dan kota. Kehadiran beragam netlabel turut memperkaya infrastruktur produksi dan distribusi musik secara digital melalui platform daring maupun luring (online/offline). Arus-arus bawah mulai bermunculan di arus utama dalam sirkuit produksi budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arena diskusi selama dua jam ini, tiga pembicara akan mengemukakan elaborasinya mengenai lanskap produksi pengetahuan dan relasi-relasi yang mendiaminya dari tiga studi kasus, yaitu perkembangan netlabel, seni media dan dangdut koplo. Bersama dengan pembicara, para hadirin diundang untuk merumuskan; dalam lanskap produksi pengetahuan yang semakin kompleks, apa yang perlu dilakukan sebagai warganet yang mendiaminya?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi ini dikurasi oleh Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh Lifepatch. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokakarya berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, beberapa koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang ingin disampaikan oleh INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Seniman:'''&lt;br /&gt;
* [[Exonemo]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ai Hasegawa]] (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Ayano Sudo]] (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (Jepang)&lt;br /&gt;
* [[Tromarama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Igor Tamerlan]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Arief Budiman]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Mira Rizki]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
* [[Abi Rama]] (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
* Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
* 19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
* Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
* Kunci Cultural Studies Center, Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
* 20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
* Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Rekan Penyelenggara ====&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival diselenggarakan bersama Asia Center - Japan Foundation&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:AsiaCenterLogo.jpg|200px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=121</id>
		<title>Indonesia Netaudio Festival 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Indonesia_Netaudio_Festival_3&amp;diff=121"/>
		<updated>2018-07-26T06:29:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Poster INF 3 A3.png | thumb | right | 400px | Poster publikasi Indonesia Netaudio Festival 3]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Festival 3 adalah sebuah festival yang diprakarsai oleh [[Indonesia Netaudio Forum]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengantar ===&lt;br /&gt;
Indonesia Netaudio Forum (INF), sebelumnya dikenal dengan Indonesian Netlabel Union (INU), telah menggelar dua festival pada tahun 2012 and 2014 bertajuk “Indonesian Netaudio Festival”, juga disingkat INF. Festival ini menggelar bermacam aktivitas seperti konser musik, lokakarya, diskusi dan ragam aktivitas berbagi yang menampilkan musisi, praktisi budaya dan media yang aktif menggunakan internet sebagai alat distribusi dan budaya berbagi yang terbuka. Pada tahun 2014, INF merayakan Hari MP3 dengan menerbitkan album musik remix dan zine yang berisi seri tulisan esai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 2018 ini INF akan menggelar festival yang ketiga bekerjasama dengan program jangka panjang Japan Foundation Asia Center: “ref:now—toward a new media culture in asia”. Festival yang bertajuk “Sharing Over Netizen Explosion” kali ini mengundang musisi, seniman, penggerak budaya alternatif, kurator, peneliti dan praktisi media dari Indonesia dan Jepang untuk bersama-sama mengkaji budaya berbagi dan intervensi artistik di tengah gegap gempita ledakan informasi para pengguna internet saat ini. Sebuah kondisi dimana jaringan internet kini menciptakan ruang yang ambigu: meretas batasan yang mainstream dan underground, mengaburkan yang nyata dan maya (fisik dan non-fisik), hingga pertarungan kontrol privasi antara warga dan penguasa jagad maya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan INF 3 digelar di Jogja National Museum pada tanggal 18 hingga 28 Agustus 2018 yang meliputi konser musik, pasar barter, live cooking, diskusi dan lokakarya pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Pada tahun ini ada program khusus yaitu pameran seni media yang dikurasi oleh Riar Rizaldi —seorang seniman dan peneliti seni media. Pameran dibuka bersamaan dengan dimulainya festival yaitu pada tanggal 18 Agustus 2018 dan berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2018. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Detail Acara ===&lt;br /&gt;
Indonesian Netaudio Festival  2018&lt;br /&gt;
* Hari/Tanggal: 18-28 Agustus 2018&lt;br /&gt;
* Tempat: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
* Alamat: Jl. Amri Yahya No. 1, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Sharing Over Netizen Explosion” ===&lt;br /&gt;
Dalam kurun satu dasawarsa ini, penggunaan internet di Indonesia telah menciptakan sebuah kondisi sosial budaya yang sangat masif baik itu jumlah penggunanya maupun dampaknya. Sistem web 2.0 yang memberikan akses bagi pengguna untuk memberikan input data atau konten secara bebas dan interaktif terutama di jejaring media sosial, telah menciptakan pranata sosial yang dianggap nyata hingga mengaburkan apa yang nyata dan maya. Pendek kata, internet atau dunia maya telah menubuh. Istilah ‘pengguna’ atau ‘user” sudah tidak lagi relevan karena semua entitas yang memiliki akses internet telah menjadi internet dan masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut kini mampu meretas batas akan hal-hal yang memiliki skala kecil dan besar, yang underground dan yang mainstream dalam ruang dan pintu akses yang sama. Tradisi masyarakat Indonesia yang mahir dalam modifikasi atau akal-akal-an dan kontrol hukum yang amburadul juga membuka peluang bagi siapapun untuk menciptakan, mendistribusikan, mengontrol, mengapropriasi, menggubah hingga meretas konten dan peralatan di internet untuk kepentingan apapun, baik komersial maupun non-profit, baik personal maupun kelompok, baik untuk tujuan mulia maupun yang mengancam kehidupan. Berbagai macam strategi, pemikiran, karya seni tercipta dan tersedia untuk dikonsumsi maupun direproduksi. Di lain pihak, yaitu pemerintah atau korporasi besar yang menguasai platform utama internet telah menjalin kerjasama dalam memindai data yang terkumpul secara sukarela dan kemudian digunakan untuk mengontrol pengaturan akses dan privasi data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah kelompok yang fokus pada praktik berbagi yang egaliter dan demokratis di jejaring internet atau platform digital, Indonesia Netaudio Forum melalui sebuah perhelatan festival seni dan budaya ingin membuka sebuah ruang sosial yang menampilkan karya musik dan seni media yang dalam praktiknya menggunakan internet sebagai jalur berbagi karya dan sekaligus kritik atau intervensi atas wacana tersebut diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program musik dalam Indonesia Netaudio Festival akan menampilkan musisi, seniman audio dan praktisi media yang menggunakan internet dan digital dalam menciptakan dan mendistribusikan karyanya baik melalui jalur distribusi non-mainstream maupun strategi manipulasi jalur mainstream. Diantaranya seperti penggunaan distribusi musik melalui netlabel, forum daring, radio daring atau layanan file-hosting/sharing untuk menjaring popularitas lintas geografi, penciptaan karya dengan aplikasi digital, penggunaan platform internet seperti YouTube atau stick PlayStation sebagai sumber data dan perangkat disc-jockey, kritik cyberculture sebagai tema lagu, produksi karya kolaboratif lintas geografi, penciptaan karakter imajiner/avatar sebagai identitas band atau karya musik, hingga berbagi karya musik secara luring melalui warnet atau jaringan PirateBox.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Program Festival ===&lt;br /&gt;
==== Musik (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah konser musik dan visual menampilkan musisi dan VJ yang menggunakan internet dan digital baik sebagai alat produksi dan distribusi atau kajian wacananya, penggunaan lisensi terbuka seperti copyleft atau Creative Commons License untuk karyanya, dan bekerja secara kolaboratif melalui beragam jaringan. Program ini dikurasi oleh Wok The Rock bekerjasama dengan Andreas Siagian sebagai pengarah artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 18 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Acara berlangsung pada pukul 19.00-23.00 WIB. &lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Hifana &lt;br /&gt;
* Senyawa &lt;br /&gt;
* Silampukau &lt;br /&gt;
* Amok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 19 Agustus 2018 =====&lt;br /&gt;
Program acara dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;
====== Mini Stage ======&lt;br /&gt;
15.00-18.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Sabarbar&lt;br /&gt;
* Hyper Allergic&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Main Stage ======&lt;br /&gt;
19.00-23.00&lt;br /&gt;
Menampilkan:&lt;br /&gt;
* Barakatak&lt;br /&gt;
* Bottlesmoker&lt;br /&gt;
* Gardika Gigih &amp;amp; Tomy Herseta&lt;br /&gt;
* Dissonant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== After Party ======&lt;br /&gt;
22.00-02.00&lt;br /&gt;
Taphouse Beer Garden&lt;br /&gt;
Jl. Jlagran No. 18, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Oomleo Berkaraoke&lt;br /&gt;
* Princess Xiaomi&lt;br /&gt;
* Prontaxan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diskusi (18 Agustus 2018)====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah diskusi interaktif yang digelar secara performatif dengan menggunakan tata suara, video, gambar grafis, aplikasi komunikasi daring dan melibatkan pengunjung festival untuk turut aktif berpartisipasi. Diskusi ini mengundang 3 pembicara yang akan membicarakan ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya fans dan perkembangan musik di jagad maya. Acara ini terbuka untuk umum dan digelar di area panggung musik. Diskusi ini dikurasi oleh Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi berlangsung pada 18 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Lokakarya (19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Sebuah lokakarya DIWO (Do-It-With-Others) yang mengundang beberapa pembuat minuman fermentasi buah di Yogyakarta. Lokakarya kolektif ini akan berbagi sumber daya dan keahlian yang ditemukan di internet bersama partisipan. Lokakarya ini menggunakan jaringan internet untuk mencari dan berbagi pengetahuan, mengambil informasi di internet, membawanya ke dalam interaksi fisik dan membandingkannya dengan pengetahuan dan pengalaman alami sebagai intervensi sosial. Ini merupakan budaya tanding bagi media internet yang kini telah menciptakan dunia imajiner nan nyata pada penggunanya. Lokakarya terbuka untuk publik. Program ini dikurasi oleh Lifepatch. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi berlangsung pada 19 Agustus 2018 pada pukul 15:00 - 18:00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pasar Barter (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
Salah satu misi penting dari festival ini adalah mengenai wacana budaya terbuka yang mempromosikan budaya berbagi. Program ini mengundang publik untuk saling bertukar barang seperti file lagu, video, pakaian, hardisk, kacamata, modem, tanaman, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasar Barter berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 pada pukul 15.00-23.00 WIB di Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Live Cooking (18-19 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan bersama adalah tradisi kolektif di Indonesia dan beberapa negara di Asia yang masih mempertahankan tradisi lokal di tengah pesatnya modernisasi. Pada acara ini, beberapa koki akan memasak makanan secara langsung di area festival dan membagikan makanan tersebut dengan sistem donasi. Progam ini juga merefleksikan wacana budaya terbuka yang ingin disampaikan oleh INF. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pameran - “Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention” (18-28 Agustus 2018) ====&lt;br /&gt;
* Resepsi Pembukaan: 18 Agustus 2018, 14.00 WIB&lt;br /&gt;
* Pameran: 18-28 Agustus 2018, 11.00-19.00WIB&lt;br /&gt;
* Lokasi: Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran seni media ini adalah program terkait yang menampilkan seniman-seniman media yang berkarya dengan menggunakan teknologi dan wacana sosial-budaya di era digital. Pameran ini mengundang seniman dari Indonesia dan Jepang yang dikurasi oleh Riar Rizaldi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi berada dimana saja, pada waktu kapan saja dan dapat disampaikan lewat cara yang sesuai dengan konteks dan lokasi. Ketika kita akhirnya dapat merasakan manfaat dari kekuatan penuh teknologi informasi, kita kehilangan kemampuan untuk menyerap kumpulan pengetahuan esoterik yang menjadi sandarannya. Teknologi jaringan seperti telepon seluler dan Internet telah menjadi sarana terbesar bagi pertukaran informasi—informatika yang begitu kuatnya pun telah menubuh di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan, teknologi jaringan mempengaruhi cara kita berkomunikasi—baik itu secara tekstual, verbal maupun visual—serta merekonstruksi berbagai teknik kontemporer yang telah eksis; seni, sinema, bioteknologi, tata kelola digital, platform capitalism. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, ketika kehadirannya sangat masif dan dimana-mana, tantangan seperti apa yang dihasilkan oleh teknologi jaringan dan infrastrukturnya dalam ranah kegiatan kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita melewati titik yang mengaburkan perbedaan antara daring dan luring, ketika kita harus tersadarkan untuk menerima kenyataan bahwa privasi adalah hal yang usang, ketika datangnya bentukan baru bahasa visual yang dimanufaktur oleh arus meme dari image board semacam Futaba Channel, dan ketika agenda pasca-kebenaran berkerumun dalam laman Facebook secara terang-terangan, pameran Internet of (No)Things mengeksplorasi kemungkinan praktik artistik dan bentuk estetika yang secara kritis menginterogasi teknologi jaringan yang omnipresent. Pameran Internet of (No)Things mengundang seniman Indonesia dan Jepang untuk menyajikan karya-karya mereka yang menafsirkan kembali—juga mengintervensi secara visual—material dan ide yang diciptakan oleh transformasi budaya dan infrastruktur Internet. Dalam pameran ini pula, jargon ''Internet of Things (IoT)'' disubversifkan sebagai sebuah upaya  memaknai kehadiran Internet secara lebih kritis. Internet sudah menubuh untuk setiap kegiatan yang kita alami, sehingga ia tidak menjadi apa-apa. Mekanismenya kita lewatkan secara sadar: terjadi begitu saja. Ia menjadi objek, ia menjadi udara, ia pun menjadi ruang. Internet bukan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mulai visualisasi citra Anime lewat aplikasi foto pada iOs hingga subtitle Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam situs ilegal film bajakan, dari mulai memecahkan fondasi fundamental sistem jaringan lewat instrumen sonik hingga usaha memperlihatkan black-box-nya teknologi jaringan lewat rekonstruksi ruang-ruang fisik, dari mulai pendekatan spekulatif pada bioteknologi dan dampaknya pada wacana reproduksi hingga usaha untuk merubah pikiran dan opini menjadi arus listrik, seniman dari Indonesia dan Jepang menata ulang, menggunakan, memanfaatkan dan merekonstruksi implikasi dari teknologi jaringan sebagai moda artistik. Di tengah kontrasnya karakteristik perkembangan teknologi, latar belakang budaya dan psikogeografi antara Indonesia dan Jepang, para seniman disini berbagi pendekatan praktik mereka yang unik terhadap perilaku vernakular dari masyarakat jejaring dalam kampung global. Melalui karya-karya artistik dan intervensi oleh para seniman di pameran Internet of (No)Things, kita akan dihadapkan oleh tantangan juga kesempatan yang diberikan oleh teknologi jaringan untuk aktivitas kebudayaan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seniman:&lt;br /&gt;
* Exonemo (JP)&lt;br /&gt;
* Ai Hasegawa (JP)&lt;br /&gt;
* Ayano Sudo (JP)&lt;br /&gt;
* Soichiro Mihara/Kazuki Saita (JP)&lt;br /&gt;
* Tromarama (ID)&lt;br /&gt;
* Igor Tamerlan (ID)&lt;br /&gt;
* Arief Budiman (ID)&lt;br /&gt;
* Mira Rizki (ID)&lt;br /&gt;
* Abi Rama (ID)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 1 ====&lt;br /&gt;
Kazuki Saita/Soichiro Mihara&lt;br /&gt;
19 Agustus 2018, 11:00&lt;br /&gt;
Jogja National Museum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 2 ====&lt;br /&gt;
Ai Hasegawa &amp;amp; Abi Rama&lt;br /&gt;
20 Agustus 2018, 16:00&lt;br /&gt;
Kunci Cultural Studies Center&lt;br /&gt;
Gang Melati, Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seri Wicara Seniman 3 ====&lt;br /&gt;
Ayano Sudo &amp;amp; Tromarama&lt;br /&gt;
20 Agustus 2018, 19:00&lt;br /&gt;
Ruang MES 56&lt;br /&gt;
Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category: Festival]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=67</id>
		<title>Halaman Utama</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=67"/>
		<updated>2018-07-11T20:11:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;h2 style=&amp;quot;padding-top:0px;margin-top:15px;&amp;quot;&amp;gt;Berita terkini&amp;lt;/h2&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{Event summary&lt;br /&gt;
| judul = Interview with Yes No Wave Music Local Netlabel&lt;br /&gt;
| ringkasan = Awalnya sih sbenernya ga ada niatan untuk membuat sebuah label rekaman karena hanya sekedar ketertarikan saya (Wok the Rock) pada percepatan teknologi digital dan output produksinya terhadap kebebasan berpendapat dan berkarya di masyarakat luas. Konsep opensource bagi saya adalah sebuah konsep yang sangat brilian dan mulia yang dihasilkan oleh manusia di akhir abad 20 yang dikemudian hari diaplikasikan menjadi program2 populer yang benar2 memberikan kontribusi besar bagi hajat hidup orang banyak, seperti dibangunnya situs Wikipedia, browser Firefox, perpustakaan digital The Internet Archive hingga model hak cipta karya digital di Creative Commons, dsb yang kesemuanya itu memiliki sifat yang sama, yaitu gratis, bebas dimodifikasi, adanya kemungkinan besar untuk saling berkolaborasi dan didedikasikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang open-mind bagi masyarakat dunia. Kaum marxis dan seniman Dadaism kuno wajib hormat dengan teknologi ini.&lt;br /&gt;
| foto = &lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{Event summary&lt;br /&gt;
| judul = MP3: The Meaning of a Format – Jonathan Sterne&lt;br /&gt;
| ringkasan = “Although it is a ubiquitous and banal technology, the MP3 offers an inviting point of entry into interconnected histories of sound and communication in the twentieth century.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun 90an, MP3 adalah format audio yang paling populer beredar untuk rekaman audio. MP3 telah menjadi keseharian warga dunia, bergerak dengan lincah di Internet hingga perekonomian jalanan. Lebih banyak album rekaman yang tersirkulasikan dalam format MP3 ketimbang dalam format lainnya. Rekaman yang memasuki dunia Internet akan berjelajah dalam format MP3. Dalam “MP3: The Meaning of a Format”, Jonathan Sterne dengan baik mengulas perkembangan teknologi MP3 dan fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya.&lt;br /&gt;
| foto = &lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{Event summary&lt;br /&gt;
| judul = Lapis “Kasta” Bernama MP3: Sebuah Amatan Atas Kedalaman Musik&lt;br /&gt;
| ringkasan = Kita boleh setuju atau tidak, bahwa di dalam musik, atau lintas keseharian kita, ada drajat tentang telinga dan fungsinya. Sedikitnya tiga: Mendengar (hearing), mendengarkan (listening), dan mendengarkan secara mendalam (deep listening). Mana yang wajib dan mana yang sunnah? Kualitas peradaban mungkin bisa mulai disisir dari telinga dan fungsinya tersebut, bukan hanya dari koar-koar politis yang menggaung menghabiskan banyak duit rakyat tapi sebenarnya bisu.&lt;br /&gt;
| foto = &lt;br /&gt;
}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=66</id>
		<title>Halaman Utama</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=66"/>
		<updated>2018-07-11T20:07:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;h2 style=&amp;quot;padding-top:0px;margin-top:15px;&amp;quot;&amp;gt;Berita terkini&amp;lt;/h2&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{Event summary&lt;br /&gt;
| judul = Interview with Yes No Wave Music Local Netlabel&lt;br /&gt;
| ringkasan = Awalnya sih sbenernya ga ada niatan untuk membuat sebuah label rekaman karena hanya sekedar ketertarikan saya (Wok the Rock) pada percepatan teknologi digital dan output produksinya terhadap kebebasan berpendapat dan berkarya di masyarakat luas. Konsep opensource bagi saya adalah sebuah konsep yang sangat brilian dan mulia yang dihasilkan oleh manusia di akhir abad 20 yang dikemudian hari diaplikasikan menjadi program2 populer yang benar2 memberikan kontribusi besar bagi hajat hidup orang banyak, seperti dibangunnya situs Wikipedia, browser Firefox, perpustakaan digital The Internet Archive hingga model hak cipta karya digital di Creative Commons, dsb yang kesemuanya itu memiliki sifat yang sama, yaitu gratis, bebas dimodifikasi, adanya kemungkinan besar untuk saling berkolaborasi dan didedikasikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang open-mind bagi masyarakat dunia. Kaum marxis dan seniman Dadaism kuno wajib hormat dengan teknologi ini.&lt;br /&gt;
| foto = &lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{Event summary&lt;br /&gt;
| judul = MP3: The Meaning of a Format – Jonathan Sterne&lt;br /&gt;
| ringkasan = “Although it is a ubiquitous and banal technology, the MP3 offers an inviting point of entry into interconnected histories of sound and communication in the twentieth century.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun 90an, MP3 adalah format audio yang paling populer beredar untuk rekaman audio. MP3 telah menjadi keseharian warga dunia, bergerak dengan lincah di Internet hingga perekonomian jalanan. Lebih banyak album rekaman yang tersirkulasikan dalam format MP3 ketimbang dalam format lainnya. Rekaman yang memasuki dunia Internet akan berjelajah dalam format MP3. Dalam “MP3: The Meaning of a Format”, Jonathan Sterne dengan baik mengulas perkembangan teknologi MP3 dan fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya.&lt;br /&gt;
| foto = &lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{Event summary&lt;br /&gt;
| judul = Lapis “Kasta” Bernama MP3: Sebuah Amatan Atas Kedalaman Musik&lt;br /&gt;
| ringkasan = Kita boleh setuju atau tidak, bahwa di dalam musik, atau lintas keseharian kita, ada drajat tentang telinga dan fungsinya. Sedikitnya tiga: Mendengar (hearing), mendengarkan (listening), dan mendengarkan secara mendalam (deep listening). Mana yang wajib dan mana yang sunnah? Kualitas peradaban mungkin bisa mulai disisir dari telinga dan fungsinya tersebut, bukan hanya dari koar-koar politis yang menggaung menghabiskan banyak duit rakyat tapi sebenarnya bisu.&lt;br /&gt;
| foto = &lt;br /&gt;
}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Lapis_%E2%80%9CKasta%E2%80%9D_Bernama_MP3:_Sebuah_Amatan_Atas_Kedalaman_Musik&amp;diff=65</id>
		<title>Lapis “Kasta” Bernama MP3: Sebuah Amatan Atas Kedalaman Musik</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://indonesianetaudioforum.net/wiki/index.php?title=Lapis_%E2%80%9CKasta%E2%80%9D_Bernama_MP3:_Sebuah_Amatan_Atas_Kedalaman_Musik&amp;diff=65"/>
		<updated>2018-07-06T02:24:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Woktherock: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;“Pak, ini berapa harganya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“25ribu, Pak”,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, saya beli satu”,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Pak. MMC-nya nggak sekalian, Pak? Head-setnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak. Sudah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---setiap orang gembira merayakan kenikmatannya sendiri: di MRT, trotoar, di kamar-kecil, di atas kendaraan, di halte, semua karena MP3, sebuah kasta yang merengkuh dan memikat secara cepat dan sekejap, menyulap musik menjadi begitu tipis, siap ditenteng kapan saja, serta sanggup menuruti kebutuhan telinga harian Anda---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perubahan atas segala format musik (dan media dengar) dari zaman ke zaman sudah sering dibicarakan, tetapi sejenak kita akan mencoba mengungkit persoalan yang sedikit lebih serius, yaitu tentang hubungan jenis musik, media dengar, dan pencapaian sesungguhnya atas kedalamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang seringkali orang tidak peduli masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musik ya musik, bisa didengar tanpa harus dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya ketika mendengarkan musik orkestra karya Igor Stravinsky atau gendhing megah Ki Tjokro Wasito dalam format MP3, dan hanya dengan menggunakan ponsel pintar. Akan jauh sekali berbeda ketika kita mendengarkannya langsung dalam format lebih detail, misalnya WAV, apalagi menyaksikannya secara langsung di ruang pertunjukan. Apakah ini soal “efisiensi” (pilihan dan konsekuensi zaman), atau masalah kebudayaan? Belum banyak yang meneliti kaitan yang sebetulnya menjadi perhatian ilmu sosiologi musik yang harus kawin dengan fisika ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti MP3 adalah sebuah format yang minoritas di aspek estetikanya, namun justru tantangannya ada pada apakah kita berani memilih secara tepat dan memiliki wawasan yang baik atas musik yang kita dengar untuk diputar di media apa dan format apa yang “layak” untuk memutarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa diasumsikan bahwa musik yang hanya berisi gitar distorsi, bas, drum, dan vokal, sudah cukup layak untuk dikonversi menjadi MP3—dan kita nyaman mendengarnya. Namun ketika kita mendengar orkestra dengan 50 jenis instrumen, MP3 tak akan sanggup melakukannya. Maka hal itu janganlah dipaksakan, karena akan semakin “memperburuk” kualitas pendengaran kita, dan akan berakibat pada semakin berjaraknya jiwa manusia akan keindahan yang disusun dan dibahasakan melalui musik itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita boleh setuju atau tidak, bahwa di dalam musik, atau lintas keseharian kita, ada drajat tentang telinga dan fungsinya. Sedikitnya tiga: Mendengar (hearing), mendengarkan (listening), dan mendengarkan secara mendalam (deep listening). Mana yang wajib dan mana yang sunnah? Kualitas peradaban mungkin bisa mulai disisir dari telinga dan fungsinya tersebut, bukan hanya dari koar-koar politis yang menggaung menghabiskan banyak duit rakyat tapi sebenarnya bisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MP3 adalah seperti ketika kita menyaksikan sebuah foto dengan resolusi kecil, padahal foto itu menyajikan sebuah panorama yang luas dengan jarak pandang yang jauh, sekaligus ada sudut kecil yang menuntut kita untuk tetap melihatnya karena itu objek penting. Kejadiannya akan menjadi blur, kualitas estetik akan berkurang. Dan pasti para fotografer “berdedikasi tinggi” menolak ketika karyanya yang menuntut kedetailan yang tinggi dikonversi menjadi remeh. Dalam musik sama saja, jika di foto disebut pixel, di dalam musik disebut sample, adalah tentang rajutan yang detail untuk membentuk unity dan kedalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknologi pada masa kini memungkinkan berbuat semuanya, tidak seperti era gramophone. Pada sebuah perbincangan dengan seorang pianis sekaligus sound engineer saya dijelaskan mengenai sebuah unsur yang di dalam musik lazim disebut clarity (kejernihan) ini. Pada waktu itu studi kasusnya adalah rimshot dan click ketika bermain snare drum. Kelihatannya itu sepele, tetapi ternyata diperhatikan betul oleh si pianis dan sound engineer ini. Satu elemen kecil di dalam musik tidak dipandang sepele oleh yang memperhatikannya secara mendalam. Bagaimana mengatur kualitas yang terus dipertahankan, mulai dari merekam (input), mengedit, mix and master, hingga menjadi sebuah produk dalam format standar dalam CD Audio. Suara hasil rimshot atau click itu tampak kentara, mesti digempur bunyi lain yang berpotensi menabrak batas-batas frekuensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kemampuan daya tangkap telinga manusia yang hanya bisa dicapai melalui deep listening inilah yang penting, sekaligus porsi mendengar juga penting karena tak seterusnya hidup kita digempur kedalaman. Menurut keyakinan saya, MP3 tidak lebih cerdas dari telinga manusia itu sendiri, yang berpotensi menjadi sumber keseimbangan alam semesta: dari mulai di dalam janin hingga tumbuh menua. MP3 hanya bisa sampai di strata mendengar (hearing)—sambil lalu, sementara untuk bisa mendengarkan dan mendengarkan secara mendalam, kita harus memilih format lain yang lebih kentara unsur-unsur musikalnya, misalnya wav, AIFF, atau yang setara dengan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel ini juga bukan tentang fanatisme atas jenis musik tertentu yang hanya menarik perasaan kita. Ini hanyalah sebuah pancingan untuk mengenali musik secara lebih mendalam, terlepas dari pencapaian MP3 yang telah begitu masif dan mampu mengubah cara pandang orang terhadap musik (dan kehidupan) di seluruh dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: Erie Setiawan, Musikolog, Direktur Pusat Informasi Musik Art Music Today.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Erie bermain musik multi-genre dan menulis beberapa buku, di antaranya: Short Music Service #1: Refleksi Ekstramusikal Dunia Musik Indonesia (2008), Short Music Service #2: Memahami Musik dan Rupa-rupa Ilmunya (2014), Short Music Service #3: Serba-serbi Intuisi Musikal dan Yang Alamiah dari Peristiwa Musik (2015). Tulisan-tulisannya bisa dibaca di: www.artmusictoday.com dan www.compusiciannews.com. Contact person: 081548622425.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Article]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Woktherock</name></author>
		
	</entry>
</feed>